19 Juli 2024

ARAHBANUA.COM

 

Oleh: Harto Malik*
Aktivis Muslim dan Gerakan Perubahan Kalimantan Selatan

 

Pileg dan Pilpres sudah berlalu kita dihadapkan lagi dengan pemilihan kepala daerah (PILKADA).

Lagi rame dimasyarakat soal pilkada, masing-masing mengemukakan analisanya dan menjagokan pilihannya.

Ada yang jagokan pilihan nya karena yakin menang tidak perduli jagoannya kurang Baik dari rekam jejaknya.

Yang penting menang, mereka tidak peduli akibat salah pilih, membawa akibat tidak baik kedepannya apabila jagoannya yang kurang baik tapi menang, daerah kurang berkembang, sumber daya alam dirampok, kerusakan lingkungan dan alam karena kebijaksaan yang mementingkan pribadi dan kelompok, ekonomi masyarakat kurang maju, perputaran ekonomi dan uang hanya dipengusaha besar dan sebagian kelompok, pajak, tarif PLN, PDAM dan harga barang naik, mereka tidak peduli yang penting jagoan mereka menang, mereka bahagia rasa bangga dan rasa benar pilihan mereka menang.

Ada juga masyarakat yang memilih calon karena duit, asalkan diberi duit banyak, mereka tidak peduli yang dipilih bakal memang atau kalah, tidak peduli pilihannya baik atau tidak, tidak peduli pilihannya salah atau benar, asal banyak kasih duit buat memilih.

Ada juga masyarakat yang memilih benar-benar memperhatikan rekam jejak jagoan pilihannya, mereka tidak akan memilih calon bila rekam jejaknya kurang jelas / kurang bagus kebijaksaannya, baik bagi perkembangan daerah, kesejahteraan masyarakat, khusus lagi untuk perkembangan agama, karena mereka takut akan pertanggung jawaban pilihan mereka nanti di akhirat.

Walaupun mereka diimingi diberi duit untuk memilih calon tertentu, mereka tidak mau, karena mereka punya prinsip dan tidak mau salah Pilih.

Ada yang beranggapan bahwa “pilihan / ikut yang menang akan bermanfaat, buat apa pilih yang benar tapi akhirnya kalah, tidak bisa berbuat tidak bermanfaat bagi diri atau orang lain.”

Anggapan di atas bisa benar yang menang akan memberi manfaat bagi orang lain jika yang menang memang orang benar, orang yang amanah, tapi akan menjadi mudharat yang besar dan dzolim besar bila yang menang adalah orang rakus, tidak amanah.

Sedangkan anggapan bahwa pilih benar tapi akhirnya kalah dan kalah tidak bermanfaat, ini kurang benar juga, paling tidak dia tidak ikut sesat memilih sembarangan, memilih karena uang, dan masih bermanfaat tidak mendzolimi dirinya terhadap pertanggungjawaban pilihannya di akhirat kelak karena sembarang pilih.

Bagaimana dengan pian, pilih menang atau pilih salah, atau pilih duit, akhirnya salah pilih, ayo pilih-pilih, pilah-pilah dan pilih.

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *