11 Juli 2024

ARAHBANUA.COM

 

Oleh: Noorhalis Majid  
Ambin Demokrasi


Tiba-tiba buah kecubung naik daun lagi. Entah siapa yang jahat mengkreasikannya dalam berbagai kemasan menarik. Mulai dari dicampur dalam kopi, dikemas berbentuk rokok, hingga disulap bagai kapsul kebugaran. Setelah mengkonsumsinya, semua seketika menjadi “tidak waras”, hidup dalam halusinasinya sendiri.

Sudah lama orang Banjar mengerti soal kecubung, paham bahwa tanaman ini mengandung senyawa kimia yang sangat beracun, serta memiliki efek psikotropika yang dahsyat. Kalau ingin gila seketika, konsumsi saja kecubung, pasti akan bicara sendiri, bicara dengan pohon, tembok, tidak sekedar bicara dengan semut atau ikan.

Fenomena kecubung ini, kalau mau dicermati lebih dalam, menggambarkan ketidak warasan berbagai instrument. Boleh jadi karena pemerintahnya tidak mampu mewujudkan kesejahteraan, sehingga banyak yang stress dihimpit persoalan ekonomi, lantas kecubung jadi solusinya.

Bisa jadi pula potret dari sistem keamanan masyarakat. Aparat dan sistem keamanan yang dibangun, tidak mampu bekerja mendeteksi kejahatan psikotropika. Di tengah ekonomi yang sulit dan pendidikan yang rendah, kecubung dikemas dengan harga lebih terjangkau.

Lantas, kepada siapa minta perhatian agar masalah ini disikapi dengan serius? Rasanya sulit berharap pada siapapun, karena wakil rakyat dan elit politik lainnya, juga sedang mabok “kecubung” lain. Mabok perjalanan dinas yang melupakan tugas pokoknya dalam mengawal dan mengawasi semua instrument pemerintahan agar bekerja dengan baik. Ada pula mabok seremonial, yang tidak ada hubungannya dengan hajat hidup masyarakat banyak. Sebagiannya lagi bahkan sedang terpapar “kecubung” berwujud judi online.

Dengan situasi seperti ini, tidak ada pilihan bagi keluarga-keluarga untuk memperkuat bentengnya masing-masing, agar tidak mudah menjadi korban. Pun bagi masyaraskat sipil, merapatkan barisan, kembali berkhitmat memperkuat warga, mendidik, mengedukasi dan bahkan mendampingi setulusnya. Hanya dengan itu kita semua dapat melawan kejahatan yang tersistematis ini. (nm)

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *