18 Juli 2024

ARAHBANUA.COM

 

Oleh: Noorhalis Majid  
Ambin Demokrasi


Kalau anda punya kesempatan menjadi pemimpin, apa godaan terbesar di penghujung masa jabatan?

Godaannya, ingin tetap bertahan pada jabatan tersebut. Bila perlu sekuat dan semampunya mempertahankan jabatan. Dan bila itu tidak dimungkinkan, berusaha menurunkan jabatan tersebut kepada orang-orang terdekat, istri, anak atau adik kandung.

Begitulah godaan kekuasaan, dan pasti tidak banyak yang lolos dari godaan tersebut. Terbukti banyak yang berusaha mempertahankan kekuasaan sampai selamanya, hingga tubuh tidak mampu lagi memikulnya. Bila tidak dimungkinkan, mewariskan kepada istri, anak dan adik kandung, walau tahu kemampuannya tidak memadai memikul jabatan tersebut.

Cerita yang melegenda tentang penolakan politik dinasti dari Umar Bin Khattab, sangat jarang dituturkan. Seperti dinukil dari buku Sejarah Umat Islam karya Prof Buya Hamka, Umar saat sekarat dan hendak meninggal dunia memberikan arahan kepada maum muslimin soal pemilihan khalifah penggantinya. Saat itu beberapa sahabat menyarankan memilih anaknya, Abdullah bin Umar sebagai pengganti khalifah. “ya Amirul Mukminin, anak paduka lebih layak meneruskan jabatan khalifah ini, jadikan sajalah dia menjadi khalifah, kami akan menerimanya,” kata sebagai muslimin pada saat itu.

Bukannya mendorong anaknya maju menjadi khalifah, Umar justru langsung menolak. “Tidak ada kaum keturunan Al Khatab hendak mengambil pangkat khalifah ini untuk mereka, Abdullah tidak akan turut memperebutkan jabatan ini!.”

Umar bin Khatab menoleh ke arah Abdullah bin Umar, anaknya. “Anakku Abdullah, sekali-kali jangan engkau mengingat-ingat hendak mengambil jabatan ini!”. “Baiklah ayah,” jawab Abdullah bin Umar.

Wasiat dari ayahnya ini, dipatuhi Abdullah bin Umar, hingga akhirnya Utsman bin Affan terpilih menjadi pengganti Umar. Sampai kepada masa perebutan khalifah di antara Alin bin Abi Thalib dan Muawiyah, Abdullah bin Umar menjadi sosok yang netral. (nm)

 

 

 

redaksi