19 Juli 2024

ARAHBANUA.COM

 

Tips bagaimana cara mengelola pikiran agar menjadi positif.
Himpunan Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam As Syafiiyah (HIMA FKIP UIA) menyelenggarakan workshop “Embrace Your Overthinking Workbook”.
Kegiatan berlangsung di ruang eksekutif lantai 3 Gedung Alawiyah, Kampus 1 UIA, Jl. Jatiwaringin-Pondokgede, Sabtu 15/5. Dibuka langsung oleh Dekan FKIP UIA DR. Misbah Fikrianto, MM, M.Pd, mengadirkan pemateri tunggal, Ken Niasti. Juga ikut memberi apresiasi Wadek DR. Sabar Lesmana dan Kaprodi BK Dita Juwita M.Pd.
Dalam sambutannya DR Misbah mengatakan materi wrorkshop sangat penting bagi mahasiswa, bukan saja yang mengambil Program Studi (Prodi) Bimbingan dan Konseling tetapi juga Prodi lainnya. Karena materi yang diapaparkan bisa meningkatkan kualitas intelektualitas mahasiswa.
“Salah satu manfaat yang bisa diambil dari workhop ini adalah bagaimana mahasiswa mendapatkan inside, mendapatkan knowledge, mendapatan kemampuan, pengetahuan berkaitan dengan seni mengelola pikiran,” tuturnya.
Over thinking (pikiran yang berlebihan), menurutnya, bisa bisa menimbulkan efek negatif, jika tidak dikelola.
Sementara pemateri Ken Niasti memaparkan, bagaimana mengelola pikiran berlebihan (over thinking) terhadap suatu persoalan yang belum tentu akan terjadi.
“Over thinking akan selalu muncul setiap kita memikirkan (merencanakan) sesuatu. Agar tidak menimbulkan efek negatif, over thinking harus dikelola. Karena over thinking itu tidak bisa dilawan atau dimusnahkan,” tuturnya.
Bagaimana mengelola over thinking agar bisa menjadi kekuatan positif? Ken memberi tips jitu. Yaitu berdialog dengan diri sendiri. Kemudian mengeksplor semua pikiran tentang “kemunhgkinan dan ketidakmungkinan” dari suatu topik yang dipikirkan. Kemudian dibuatkan tabelnya dan mengurai dari semua sisi positif dan dari semua sisi negative.
Sebagai contoh Jika seorang mahasiswa memikirkan mata kuliah ‘hantu’ yang harus diulang pada smester berjalan. Padahal itu belum terjadi. Sementara pikiran tentang mengulang itu terus datang bolak-balik di kepalanya, yang kemudian menimbulkan ketakutan.
Untuk mengatasi hal ini Ken menyarankan agar membuat daftar. Faktor apa saja yang memungkinkan si mahasiswa harus mengulang dan faktor apa saja yang memungkinkan mahasiswa tidak mengulang. Setelah mendapatkan semua factor (positif atau negatif) kemudian diolah.
“Dengan mengolahnya akan terlihat nantinya pikiran mana yang lebih kuat dan rasional. Nah dari situlah kita dapat memutuskan apa yang harus kita lakukan,” terangnya.*** ()

 

 

 

redaksi