18 Juli 2024

ARAHBANUA.COM

 

Khutbah Idul Adha 1445 H / 2024 M
Oleh : Prof. Dr. H. Eggi Sudjana, SH, M.Si.
Masjid Al Kautsar. Perumahan Griya Anggraini, Jalan Anggaran Raya Blok E14 No.1, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor. 

 

إنَّ الحَمْدَ ه لِل نَحْمَدُهُ وَنَسْتَ ه عيْنُهُ وَنَسْتَغْ ه فرُهُ ، و َنَعُوْذُ بهاللهه ه منْ شُرُوْ ه ر أَنْفُ ه سنَا
وَسَيهِّئَا ه ت أَعْمَا ه لنَا ، مَنْ يَهْ ه د ه الله فَلا مُ ه ضلَّ لَه ، وَمَنْ يُضْ ه للْ فَلا هَا ه ديَ لَ هُ ،
وَأشْهَدُ أنْ لا إلهَ إلا الله وَحْدَهُ لا شَريْكَ لَهُ وَأشْهَدُ أنَّ مُح َمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه

 

اللََُّّ أَكْبَرُ اللََُّّ أَكْبَر
لا إهلَهَ إهلا اللََُّّ، وَاللََُّّ أَكْ بَرُ
اللََُّّ أَكْبَر وَه لِلَّه الْحَمْدُ

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Alhamdulillah, atas bimbingan, inayah, dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, hari ini kita masih diberi kesempatan dan kemampuan untuk merayakan hari raya Idul Adha, hari raya agung bagi kaum muslimin sedunia.
Dengan mengagungkan asma Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam kesejukan hati dan ketenangan jiwa di pagi hari raya ini, mari kita panjatkan puji syukur atas segala kenikmatan yang tak pernah bisa diukur. Nikmat iman dan nikmat Islam, serta nikmat kesehatan jasmani dan rohani, mudah-mudahan senantiasa dapat kita gunakan dalam menjalankan berbagai aktivitas kita untuk sembah sujud terhadap segala perintah dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya.
Mudah-mudahan, segala kenikmatan tersebut senantiasa dinamis dalam membimbing umur kita yang semakin berkurang, untuk terus memperbaiki dan meningkatkan amal ibadah.
Kumandang takbir, tahmid, dan tahlil yang menggema ke angkasa hendaknya menjadi wujud tafakur kepada yang Maha Luhur dari segala sikap dan ucapan kita, dari segala langkah dan polah kita yang selalu takabur dengan berbagai keakuannya.
Hari ini juga tentunya menjadi kebahagiaan tersendiri bagi mereka yang telah melaksanakan shaum sunah Arafah, karena besarnya keutamaan yang terkandung di dalamnya, sebagaimana yang diutarakan Rasulullah Saw.

 

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَ وْمِ عَرَفَةَ فَ قَالَ يُكَ فِرُ السَّنَةَ الْمَاض ِيَةَ وَالْبَاقِيَة

“dan (Nabi) ditanya tentang shaum hari Arafah maka beliau bersabda: Menghapus dosa tahun yang lalu dan yang akan datang.” (HR.Muslim)

 

Pada kesempatan hari ini pula, mari kita doakan saudara-saudara kita yang sedang melaksanakan ibadah Haji. Mudah-mudahan mereka dapat melaksanakan ibadah Haji dengan selamat dan kembali ke tanah air menjadi haji mabrur yang berdampak pada perubahan perilakunya, yang ditunjukkan dengan kuantitas dan kualitas ilmu, iman, dan amal salehnya di tengah masyarakat. Tentu tak lupa saudara-saudara seislam dan seiman kita di jalu Gaza Palestina dapat tabah, sabar, dan ikhlas menerima cobaan perang ini dan insya Allah dimenangkan oleh Allah SWT.

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Momentum Idul Adha tentunya tak akan lepas dari dua peristiwa besar bagi hamba-hamba muttaqin. Pertama, adalah pelaksanaan ibadah haji dengan titik tolak kewajiban sebagai bagian dari ketaatan rukun Islam yang kelima yang merupakan rekam jejak perjalanan hidup dari Nabi Ibrahim as. Siti Hajar, dan Nabi Ismail as. sebagai kakek dan nenek uyut dari Nabi Muhammad Saw.; dan yang kedua adalah keikhlasan untuk melaksanakan ibadah kurban yang mempunyai nilai pengorbanan dan penghambaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menyembih berbagai sifat kebinatangan seperti keegoisan, keserakahan, keangkuhan, kedengkian, dan sikap-sikap asosial lainnya. Kedua peristiwa tersebut juga telah menjadi bagian sandaran keimanan dan ketakwaan kita, sehingga menjadi bagian dari syiar-syiar perintah Allah yang harus dijaga tatanan dan tuntutannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (QS Al Hajj [22]: 32)

 

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya. (QS Al Hajj [22]: 30)

 

Bahwa, yang terpenting juga untuk diingatkan, kedua ritualitas ibadah tersebut tidak akan terlepas dari keteladanan, pengorbanan, dan keikhlasan Nabi Ibrahim as, Ismail as, dan Siti Hajar sebagai hamba-hamba terpilih. Bahkan, napak tilas perjalanan hidup keluarga Nabi Ibrahim as ini telah menjadi bagian dari rekonstruksi sekitar 5 juta kaum muslim di dunia yang setiap tahunnya melaksanakan ibadah haji.
Berbagai proses ritual Ibadah haji telah memberikan gambaran proses hidup yang harus dipegang kaum muslimin. Berbagai status sosial dan atribut keduniaannya, harus dilepas dengan hanya mengenakan dua helai kain ihram yang mencerminkan sikap tawaduk, yang menunjukkan bahwa pada hakikatnya semua manusia itu sama kedudukan dan derajatnya. Dengan penuh ketundukkan dan kekhusyuan, mereka wukuf di Arafah, larut dalam zikir, bermunajat dan taqarrub Ilallah (mendekatkan diri kepada Allah). Melontar jumroh sebagai simbol perlawanan manusia terhadap syetan yang selalu merongrong dan membelokan hati manusia ke arah kesesatan, menjadi filosofi yang selalu harus melekat dalam diri kaum muslimin setiap saat, bila tidak maka peluang syetan untuk melempar akan selalu besar. Selanjutnya thawaf, dengan mengelilingi Kabah sebagai fokus utama, telah menunjukkan arah dan tujuan hidup umat Islam yang sama, yaitu menggapai ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala

 

bersambung ke BAGIAN KEDUA

 

 

redaksi