20 Juli 2024

ARAHBANUA.com

 

Oleh: Noorhalis Majid
Ambin Demokrasi  |

Caleg bercerita, ada beberapa orang datang menawarkan diri menjadi tim sukses. Lalu ia bertanya, bagaimana strategi pemenangannya? Orang-orang tersebut mengatakan, dengan money politik. Bentuknya agar tidak dianggap pelanggaran, dengan memberi bingkisan. Katanya mencontoh yang dilakukan orang kebanyakan. Kalau tidak dengan money politik, sulit bisa menang, kata tim sukses mencoba meyakinkan.

Sang caleg pun penasaran, ingin tahu berapa besaran uang yang diberikan pada setiap pemilih? Dijawab mereka, kisarannya sekarang antara 250 sampai 350 ribu.

Lalu caleg tersebut mengatakan bagaimana kalau 200 saja, dan saya perlunya 50 ribu suara. Berapa uang yang harus disediakan? Sambil memainkan kalkulator, ia menemukan angka 10 milyar.

Caleg tadi lantas menatap mata para tim sukses dan bertanya, “kalau saya punya uang 10 milyar, sebaiknya saya tetap nyaleg atau tidak?” Dijawab, “sebaiknya tidak usah nyaleg, rugi. Karena kalau pun dilakukan, paling dampaknya hanya 35%, sisanya belum tentu”.

Kalau benar semahal itu untuk dapat terpilih. Maka bisa dipastikan pemilu hanya mampu diisi oleh orang-orang kaya. Atau orang yang berkolaborasi dengan kelompok oligarki.

Padahal, tidak semua caleg punya kemewahan. Sebagian besar mungkin orang-orang sederhana yang mencoba menawarkan diri berkiprah dalam politik.

Kalau tidak punya kemampuan, apalagi kemewahan, kebudayaan Banjar memberikan nasehat, agar tidak perlu “mangarawang langit”.

Mangarawang artinya mengukir. Bagaimana mungkin mengukir langit? Tentu hal yang mustahil. Menggambarkan jauhnya perbedaan antara kemampuan dengan keinginan. Dalam hidup, rupanya banyak sekali yang memaksakan kemampuan untuk memenuhi keinginan.

Ungkapan ini memberi nasehat agar menyesuaikan kemampuan. Jangan banyak berhkhayal. Lebih baik realistis saja.

Dalam strategi pemenangan juga demikian. Kalau mampunya hanya bikin kartu nama, cukuplah dengan kartu nama mendatangi warga, tidak perlu memaksakan yang muluk-muluk, laksana “mangarawang langit”. (nm)

 

 

 

 

 

redaksi