12 Juli 2024

Reza Nasrullah

Penulis: REZA NASRULLAH
arahbanua.com, Banjarbaru-

 

Hasil akhirnya adalah sebuah generasi sahabat yang benar-benar memperlihatkan hidupnya AL-QUR’AN tidak hanya dalam hati dan mulut mereka, tapi juga SELURUH anggota badan, perasaan dan pikiran mereka.

Kita mengetahui merekalah yang dengan gemilang menegakkan sistem sosial islamiyyah yang pertama di Madinah. Merekalah generasi terbaik Islam sepanjang zaman. Dengan kualitas mereka Islam menyebar sampai ke kita, di sini.

Kalau kita pikir lebih jauh, ternyata satu-satunya perbedaan pengalaman mereka dengan kita adalah bahwa mereka hidup bersama Rasulullah SAW, sedangkan kita tidak. Al-Qur’an dan hadits sama-sama kita miliki, sebagaimana mereka. Apakah karena mereka bersama Rasulullah SAW maka mereka berhasil?

Seandainya kualitas seperti mereka disebabkan oleh adanya Rasulullah SAW tentulah Islam tidak cocok untuk diproklamasikan sebagai pedoman hidup manusia sepanjang masa dan untuk seluruh ummat manusia. Sebab dengan wafatnya Rasulullah SAW maka generasi Qur’ani akan lenyap dan tidak terbina lagi.

Kenyataannya ALLAH SWT menyatakan bahwa Islam adalah untuk sampai zaman akhir dan seluruh ummat manusia. Maka DIA sendiri yang memberitahukan kepada kita bahwa DIA-lah yang menjaga AL-QUR’AN itu.

Maka dapatlah disimpulkan bahwa factor sebenarnya dari terbentuknya kualitas generasi sahabat ini adalah AL-QUR’AN itu sendiri. Al-Qur’an lah satu-satunya sumber inspirasi, keimanan, pengertian tentang kehidupan, pedoman hidup, bagi mereka. Padahal di sekitar mereka ada banyak literatur tentang pedoman hidup, hokum-hukum, filsafat, kebudayaan dan sastra, yang dikembangkan oleh orang-orang yahudi dan nasrani, atau hindu (India), majusi (Persia) dan Yunani.

Dengan fenomena ini kita sampai pada beberapa keunikan generasi sahabat yang membedakannya dengan kita:

  1. Mereka dibina oleh Rasulullaah SAW dengan hanya SATU sumber, yakni AL-QUR’AN, yang menghasilkan suatu ‘aqidah, pola pikir dan metoda hidup yang murni. ALLAH SWT dengan sengaja telah memola hati dan pikiran mereka dengan kitab karanganNya saja (karena mereka beriman kepada AL-QUR’AN itu), dan mencegah sumber lain ikut dalam prosesnya (karena para sahabat tsb sudah memasrahkan dirinya 100% kepada bimbingan dan petunjuk ALLAH SWT).
  2. Pendekatan mereka dalam “mengaji” AL-QUR’AN adalah dalam rangka pedoman hidup sehari-hari, baik skala pribadi, keluarga, maupun jamaah/kelompok/masyarakat. Mereka membaca AL-QUR’AN seperti prajurit membaca “perintah harian” komandannya.
  3. Mereka yakin dalam Islam 100% (sehingga segala sesuatu dirujuk ke AL-QUR’AN sebagai pedoman yang sebenarnya) dan sekaligus keluar dari sistem jahiliyyah juga 100%. Inilah yang dinamakan revolusi ‘aqidah yakni berpalingnya kecenderungan hati dari jahiliyyah ke islamiyyah, yang meliputi:
  • Lingkungan sosialnya;
  • Adat-adat dan kebiasaannya;
  • Ide-ide dan konsep-konsepnya;
  • Hokum/undang-undangnya;
  • Seni (music, sastra, lukis, tari, dsb) dan kebudayaannya;
  • Perilaku individual dan sosialnya;
  • Mode pakaian dan pergaulannya;
  • Ibadah ritualnya, dst.

Hakikat metoda AL-QUR’AN dalam perubahan sosial

Dilihat dengan “kacamata” kita sebagai manusia, kita dapat saja berpikir bahwa dengan kondisi sistem sosial jahiliyyah saat itu, ada tiga alternatif bagi Nabi Muhammad SAW untuk menda’wahkan Islam tanpa harus menghadapi permusuhan keras dan sengit dari musyrikin Makkah, yaitu:

  1. Beliau adalah orang yang digelari al-amin oleh suku-suku Arab Quraisy. Dengan gelar ini beliau bisa manfaatkan untuk membangkitkan nasionalisme Arab dan menyatukan mereka di bawah kepemimpinannya, dengan latar belakang membebaskan tanah Arabia dari penjajahan asing. Saat itu Syria dijajah oleh Romawi dan Yaman dijajah oleh Persia. Orang-orang Arab hanya berkuasa di Hijaz, Tihama dan Najd, daerah gurun dengan oasis yang sedikit. Setelah itu barulah beliau memerintahkan pengikutnya untuk memeluk Islam.
  2. Beliau juga dapat memanfaatkan situasi ekonomi penduduk/warga yang tidak adil, dengan menggerakkan kaum tertindas untuk memberontak dan menghancurkan dominasi orang-orang kaya. Karena mayoritas, maka ia akan dapat memenangkan pertarungan lalu mendirikan sistem yang dia kepalai sendiri dan orang-orang kaya tunduk kepadanya. Setelah itu barulah beliau perintahkan mereka untuk memeluk Islam.
  3. Beliau dapat memulai gerakan reformasi moral dengan mengumpulkan orang-orang yang masih memiliki kesadaran moral dan muak dengan kebobrokan masyarakatnya. Diperhitungkan bahwa beliau dapat merekrut pengikut yang cukup besar jumlahnya, kemudian berjuang untuk memperbaiki masyarakat yang bobrok tsb. Kemudian dengan mengandalkan kecenderungan pengikutnya kepada moral dan keteguhan mereka terhadap moral yang mereka perjuangkan, maka beliau dapat dengan mudah mengajak mereka untuk beriman kepada keesaan ALLAH SWT. Ini paling tidak mengurangi beban penentangan yang beliau terima dari masyarakat Quraisy.

Ketiga alternatif di atas tidak perlu menyebabkan mereka disiksa/diintimidasi/dibokikot/dsb seperti alternatif yang telah dilaksanakan. Alternatif yang dilaksanakan bukan ketiga opsi di atas melainkan-sebagaimana yang kita ketahui-beliau langsung saja menda’wahkan dua kalimah syahadat tanpa menghitung resiko apapun. Ternyata inilah satu-satunya metoda yang dikehendaki ALLAH SWT berdasarkan pengetahuanNya.

Pemahamannya adalah sebagai berikut:

Sehubungan dengan alternatif (a), maka ALLAH SWT menghendaki bahwa bumi Arab adalah milikNya dan harus dibersihkan dari penguasa yang tidak mengakui kedaulatanNya. Dan ini hanya bisa dilakukan bila dua kalimah syahadat itu sudah diimani oleh siapa saja yang mau. Maka dialah yang berhak mendapat mandat dari ALLAH SWT untuk berkuasa (memegang kendali sistem sosial).

 

 

redaksi