21 Juli 2024

Kertas suara pemilu Turki putaran kedua ( foto ist )

Penulis : MU Salman
arahbanua.com, BANJARBARU-

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah memenangkan pemilihan, menurut Dewan Pemilihan Tertinggi negara itu dan data tidak resmi dari Kantor Berita Anadolu Agency yang dikelola negara, dalam putaran kedua yang menegangkan setelah gagal mendapatkan lebih dari 50 persen suara diperlukan untuk kemenangan langsung di babak pertama pada 14 Mei.

Dengan 99% suara yang telah dihitung, Erdogan memperoleh 52,14 persen suara di putaran kedua pada Ahad (28/5/2023), mengalahkan lawannya, Kemal Kilicdaroglu, yang meraih 47,86 persen, menurut Dewan Pemilihan Tertinggi.

Hasilnya diharapkan akan dikonfirmasi dalam beberapa hari mendatang.

Pemungutan suara terbaru telah menyegel tempat Erdogan dalam sejarah saat ia memperpanjang pemerintahannya selama 20 tahun untuk lima tahun lagi.

Dia telah melampaui 15 tahun kepresidenan pendiri Republik Turki, Mustafa Kemal Ataturk.

Erdogan muncul di luar kediamannya di Uskudar Istanbul, di mana dia memberikan pidato sebelum berterima kasih kepada para pendukungnya.

“Kita telah menyelesaikan putaran kedua pemilihan presiden dengan dukungan rakyat,” kata Erdogan. “Insya Allah kami akan berjalan di atas kepercayaan Anda seperti yang telah kami lakukan selama 21 tahun terakhir.”

Dia menambahkan bahwa 85 juta warga negara itu adalah “pemenang” dari dua putaran pemungutan suara pada 14 Mei dan 28 Mei.

Dalam pidato kemenangannya, Presiden Erdogan terus mengulangi: “Kami tidak akan membiarkan pasukan LGBT menang!” Dia kemudian menekankan “LGBT tidak bisa menyusup di antara kita. Kita akan terlahir kembali. Keluarga adalah sesuatu yang sakral. Kekerasan terhadap perempuan dilarang dan haram bagi kita, tidak ada yang boleh melakukannya, kami sangat keras dalam hal ini!”

Presiden juga mengatakan bahwa oposisi utama Partai Rakyat Republik (CHP) akan meminta pertanggungjawaban kandidat Kilicdaroglu atas kinerjanya yang buruk. Ia menambahkan bahwa jumlah kursi CHP di parlemen menurun dibandingkan dengan jajak pendapat 2017.

Erdogan kemudian menuju ke Ankara, di mana dia berbicara kepada para pendukung di istana presiden. Erdogan memberi selamat kepada orang banyak, dan memberi tahu mereka bahwa masalah paling mendesak yang dihadapi negara saat ini adalah inflasi, sebelum menambahkan bahwa itu bukan masalah yang sulit untuk dipecahkan.

Data resmi menunjukkan bahwa inflasi di Turki mencapai 50,5 persen pada Maret, turun dari level tertinggi 85,6 persen pada Oktober.

“Masalah yang paling mendesak… adalah untuk menghilangkan masalah yang timbul dari kenaikan harga yang disebabkan oleh inflasi dan untuk mengompensasi hilangnya kesejahteraan,” kata presiden.

Erdogan menambahkan bahwa menyembuhkan luka gempa Februari dan membangun kembali kota-kota yang hancur akibat bencana alam akan terus menjadi prioritasnya.

“Hati dan tangan kami akan terus berada di wilayah gempa,” kata Erdogan.

Dalam pidato kemenangannya, Erdogan kembali mengutip hadits tentang konstantinopel.

Untuk mengingatkan kembali hadits yang dikutip Erdogan itu adalah sebagai berikut:_

Dilansir dari Republika, 30 Mei 2020, dalam sebuah riwayat masyhur, Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya oleh salah seorang sahabat. ”Ya Rasul, mana yang lebih dahulu jatuh ke tangan kaum Muslimin, Konstantinopel atau Romawi?” Nabi menjawab, “Kota Heraklius (Konstantinopel),” (HR Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim).

Menjelang waktu Ashar pada 29 Mei 1453, atau tujuh abad kemudian, ramalan Nabi terbukti. Dengan kekuatan tak kurang dari 100 ribu pasukan, pasukan kekhalifahan Turki Utsmani di bawah komando Mehmed II, atau dikenal dengan panggilan Muhammad Al-Fatih, berhasil menaklukkan jantung peradaban Kristen terbesar itu.

Mirip Tembok Besar di China, kota Konstantinopel dinaungi benteng yang terbentang sejauh total 20 kilometer guna menghindari serangan musuh. Serangan pasukan Al-Fatih sudah dimulai sejak 6 April atau lebih dari sebulan sebelumnya tanpa hasil memuaskan. Tak mudah menundukkan Konstantinopel. Upaya penaklukan bahkan sudah dilakukan sejak tahun 44 Hijriah pada era Muawiyah bin Abu Sofyan.

Pasukan artileri Al-Fatih gagal menusuk dari sayap barat lantaran dihadang dua lapis benteng kukuh setinggi 10 meter. Mencoba mendobrak dari selatan Laut Marmara, pasukan laut Al-Fatih terganjal militansi tentara laut Genoa pimpinan Giustiniani. Sadarlah Al-Fatih, titik lemah Konstantinopel adalah sisi timur yakni selat sempit Golden Horn.

Selat ini dibentang rantai besar, memusykilkan armada kecil sekali pun untuk melewatinya. Tapi Al-Fatih saat itu yang usianya baru 23 tahun tak kehabisan akal. Ia menggusur kapal-kapalnya dari laut ke darat, demi menghindari rantai besar. Sebanyak 70 kapal digotong ramai-ramai ke sisi selat dalam waktu singkat pada malam hari. Inilah awal dari kejatuhan Konstantinopel yang fenomenal.

Jatuhnya Konstantinopel menjadi pintu gerbang bagi kekhalifahan Turki Utsmani (Ottoman) untuk melebarkan sayap kekuasaannya ke Mediterania Timur hingga ke semenanjung Balkan. Peristiwa ini kelak menjadi titik krusial bagi stabilitas politik Ustmani sebagai kekuatan adikuasa kala itu, jika bukan satu-satunya di dunia. Tanggal 29 Mei 1453 juga ditandai sebagai era berakhirnya Abad Pertengahan.

Nama Konstantinopel kemudian diubah menjadi Istanbul yang berarti kota Islam. Istanbul, kerap dilafalkan Istambul, kemudian sebagai ibu kota kekhalifahan Turki Utsmani hingga kejatuhannya pada 1923. Kota pelabuhan laut ini menjadi pusat perdagangan utama Turki modern saat ini. Secara geografis, wilayah Istanbul ‘terbelah’ dua dan masing-masing terletak di Asia dan Eropa. Berpenduduk hingga 19-20 juta jiwa, Istanbul adalah salah satu kota terpadat di Eropa.

Dalam pidato kemenangannya, Erdogan juga mengulang kembali puisi bernuansa Islami dan jihad berjudul “doa” sambil diaminkan oleh para pendukungnya.

Puisi ini mengingatkan kembali peristiwa ketika Erdogan menjadi Wali Kota Istanbul. Saat itu dia membacakan puisi “doa prajurit” yang membuatnya ditangkap aparat penegak hukum. Saat itu rezim sekuler penerus Kemal At Taturk masih berkuasa.

Sementara lawan Erdogan, Kemal Kilicdaroglu, dalam komentar pertamanya setelah jelas bahwa Erdogan sebagai pemenang presiden, mengatakan bahwa dia akan melanjutkan apa yang dia sebut sebagai “perjuangan untuk demokrasi”.

Meski kalah, Kilicdaroglu belum mengundurkan diri. Ada kemungkinan besar seruan mundur untuknya akan meningkat.

redaksi