13 Juli 2024

ARAHBANUA.COM

 

 

 

Bicara pengarusutamaan lingkungan hidup di Indonesia, tak lepas dari sosok Prof. H. Emil Salim, SE, MA, Ph.D yang merupakan mantan Menteri Lingkungan Hidup pertama di Indonesia

Pria lahir di Lahat, Sumatra Selatan pada tanggal 8 Juni 1930 ini merupakan putra dari Baay Salim dan Siti Syahzinan, dan merupakan keponakan dari salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yaitu Haji Agus Salim.

Selain dikenal sebagai mantan Menteri Lingkungan Hidup, Emil Salim juga dikenal sebagai ekonom, politikus, dan intelektual Indonesia yang karyanya sangat berpengaruh di bidang lingkungan hidup.

Pendidikan dasar hingga menengahnya ditempuh di berbagai kota, mulai dari Banjarmasin, Lahat, Palembang, hingga Bogor. Emil Salim melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan meraih gelar Master of Arts serta Ph.D. dari University of California, Berkeley, dengan disertasi mengenai struktur institusional dan pembangunan ekonomi.

Kehidupan pribadinya juga menarik, Emil menjalani hubungan dengan Roosminnie Roza sejak 1950, sempat merencanakan pernikahan pada 8 Juni 1958. Pernikahan ditunda selama 2 bulan karena Emil Salim sakit. Pada tanggal 26 September 1958, mereka menjalani prosesi akad nikah. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai seorang anak laki-laki dan perempuan, yaitu Roosdinal Salim dan Amelia Farina Salim.

Sebagai tokoh yang mendalami ekonomi dan lingkungan hidup, Emil Salim memainkan peran penting di panggung nasional dan internasional. Ia terkenal atas usulan dalam mempromosikan pelestarian lingkungan melalui berbagai inisiatif, termasuk mengundang Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup Indonesia, di mana ia mendorong isu lingkungan menjadi gerakan dan meletakkan dasar bagi terbentuknya Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).

Emil Salim merupakan tokoh lingkungan hidup yang mendapat pengakuan internasional, dianugerahi The Leader for the Living Planet Award oleh World Wide Fund dan Blue Planet Prize oleh The Asahi Glass Foundation karena dedikasinya dalam pelestarian lingkungan.

Setelah masa jabatan menteri, ia bersama para kolega mendirikan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati), fokus pada pelestarian lingkungan hidup. Emil Salim juga merupakan salah satu pendiri LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial) ,  salah satu think thanks atau LSM terbesar di Indonesia, memiliki pengalaman dan kompetensi dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan pengumpulan, penelitian serta pendidikan politik dan sosial ekonomi.

Karier Emil Salim di pemerintahan mencakup berbagai posisi penting, termasuk Menteri Perhubungan dan Menteri Negara Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara, serta jabatan sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Kehidupannya di pemerintahan mencatatkan dia sebagai salah satu menteri Indonesia yang paling lama menjabat dan anggota pemerintahan di tiga zaman.

Di luar pemerintahan, Emil Salim aktif di bidang akademis dan pembangunan masyarakat. Sebagai guru besar, anggota Dewan Penasihat Pemerintah, dan Ketua Delegasi Indonesia dalam Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim, ia berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan.

Penghargaan dan tanda kehormatan yang diterima Emil Salim, baik dari dalam maupun luar negeri, mencerminkan pengakuan terhadap dedikasi dan kontribusinya yang luas. Di antaranya adalah Bintang Mahaputera Adipradana dari Indonesia, serta penghargaan dari Austria, Belanda, Belgia, Italia, dan Prancis.

Karya-karya Emil Salim dalam bidang lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan, seperti “Pembangunan Berwawasan Lingkungan” dan “Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi,” menjadi sumber inspirasi dan panduan bagi banyak orang dalam berkontribusi pada pelestarian lingkungan untuk generasi sekarang dan mendatang.

Emil Salim hingga kini terus menjadi sosok yang dihormati dan inspiratif, berjuang demi masa depan lingkungan yang berkelanjutan.

Pendidikan

  • Sekolah Frobel, Banjarmasin, Kalimantan Selatan (1935–1936)
  • Sekolah Europesche Lagere, Banjarmasin (1936–1940), Lahat (1940–1942)
  • Dai Ichi Syo-Gakko, Palembang, Sumatera Selatan (1942–1944)
  • Sekolah Menengah Umum Pertama, Palembang (1945–1948)
  • SMAN 1 Bogor, Jawa Barat (1948–1951)
  • Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1951–1958)
  • University of California, Berkeley, Amerika Serikat, Department of Economics (1959-1964), (Master of Arts,1962; Ph.D, 1964 dengan disertasi berjudul Institutional Structure and Economic Development)

Karier

  • Tim Penasihat Ekonomi Presiden (1966)
  • Anggota Tim Penasihat Menteri Tenaga Kerja (1967–1968)
  • Anggota Tim Teknis Badan Stabilitas Ekonomi (1967–1969)
  • Deputi Ketua Bappenas (1968–1971)
  • Dosen Seskoad dan Seskoal (1971–1973)
  • Menteri Negara Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara merangkap Wakil Kepala Bappenas (1971–1973)
  • Menteri Perhubungan (Kabinet Pembangunan II 1973–1978)
  • Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (Kabinet Pembangunan III 1978–1983)
  • Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (Kabinet Pembangunan IV-V 1983–1993)
  • Guru Besar FEUI (1983)
  • Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN–1999)
  • Anggota Dewan Penasihat Pemerintah RI dan Kepala Dewan Ekonomi Nasional (2000–2004)
  • Anggota Bidang Pengembangan Ilmu Ekonomi, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia/ISEI (2006–2009)
  • Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (2007–2012)
  • Dewan Pertimbangan Presiden, Anggota Bidang Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan (2007–2010)
  • Ketua Dewan Pertimbangan Presiden, merangkap Anggota Bidang Ekonomi dan Lingkungan Hidup (2010–2014)
  • Anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (2021–sekarang).

Kegiatan Lainnya

  • Anggota Korps Mobilisasi Pelajar Siliwangi (1950)
    Ketua IPPI Bogor (1949)
  • Ketua Tentara Pelajar Palembang (1946-1949)
  • Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (1955-1957)
  • Anggota Kehormatan Persatuan Insinyur Indonesia (1992)
  • Ketua Tim Penyaringan UNDP (1999)
  • Anggota Dewan Pembina Yayasan Kehati
  • Ketua Delegasi Indonesia dalam Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim di Bali (3-14 Desember 2007)

 

Disalin dari  BERITALINGKUNGAN.COM
Oleh M. Ridho Nurjannah F./ MRNF (AB)

 

redaksi