19 Juli 2024

Universitas di Yaman tempat mahasiswa Islam menuntut ilmu ( foto ist )

Penulis: OVAMIR ANJUM
Editor: Reza Nasrullah
arahbanua.com, Banjarbaru

Sanhūrī bukan sekadar pemimpi; karya-karyanya berikutnya memerinci secara panjang lebar berbagai masalah yang harus dihadapi dalam pemerintahan dengan banyak lapisan seperti itu, hingga jenis-jenis komite untuk berbagai urusan agama dan lainnya, serta kepekaan terhadap hak-hak non-Muslim serta negara tetangga non-Muslim—“bangsa-bangsa di timur”—yang akan diperlukan.
Dalam alur pikir ini, arsitektur konstitusional Amerika Serikat mewakili salah satu kasus visi politik terbaik dalam dunia modern, yang tidak bisa diabaikan pemikiran politik kontemporer. Ketika diwawancarai mengenai bukunya The Conservative Sensibility, pakar sayap kanan George Will baru-baru ini mengatakan bahwa upaya pemerintahan Bush membawa demokrasi ke Irak berakhir gagal karena Irak tidak memiliki orang-orang seperti filsuf John Locke, negarawan George Washington, ekonom visioner Alexander Hamilton, dan masyarakat Amerika abad ke-18. Argumen lebih besarnya adalah sejumlah genius politik menciptakan sistem politik Amerika, yang kemudian menciptakan budaya dan subjektivitas yang diperlukan demokrasi yang sukses. Artinya, ketiga elemen ini dibutuhkan untuk visi politik yang sukses: seperangkat cita-cita bersama, sejumlah pemikir visioner yang istimewa dan berani, dan masyarakat yang menyahut visi mereka. George Will bukanlah ahli tentang Irak, dan pandangannya tentang Amerika secara sempit mengabaikan konflik dan kemungkinan dari sejarah, tetapi wawasannya ada yang benar: dibutuhkannya orang visioner dan dukungan masyarakat serta, khususnya, kegagalan solusi impor. Yang lebih penting lagi adalah pengamatannya tentang Deklarasi Kemerdekaan Amerika: yang dilihatnya bukan menciptakan hak yang dipaksakan dari atas ke bawah, tetapi mengamankan hak yang sudah ada sebelumnya yang secara luas diyakini berasal dari Tuhan.

91.Saya membayangkan khilafah sebagai federasi pemerintah lokal yang dapat diatur secara demokratis atau dengan sejumlah pelembagaan syura tradisional atau inovatif—yang mencakup perwakilan, konsultasi, dan akuntabilitas. Hukum Islam secara inheren pluralistik dan tidak berusaha memaksakan norma-norma komunalnya kepada para non-Muslim. Sebabnya adalah gagasan Islam tentang kehidupan dan pemerintahan komunal pada dasarnya adalah dari bawah ke atas: orang hanya dapat diatur oleh hukum yang mereka yakini. Komitmen lain terkait pemerintahan Islam adalah integritas keluarga dan masyarakat. Komitmen ketiga terkait tradisi Islam secara historis adalah pemerintah kecil dan penghormatan terhadap adat istiadat setempat. Ketika negara-bangsa meninggalkan standar-standar ini dan mencoba memaksakan hukum Islam menjadi hukum negara maka penyalahgunaan pun terjadi.

92.Semua komitmen ini menjadi blok bangunan bagi desain konstitusional yang ke depannya perlu menyeimbangkan kekuasaan pemerintah. Singkatnya, desain kelembagaan konfederasi masa depan pemerintah Muslim harus menggunakan khazanah tradisi Islam, tetapi yang juga sama pentingnya adalah mengadopsi kembaga kontemporer yang kompatibel.
Ini bukanlah seruan untuk revolusi dengan kekerasan, yang pasti akan diikuti teror setelahnya. Lebih tepatnya, ini adalah seruan untuk diskursus dan praktik baru dalam kerangka kerja khilafah luas yang menganggap serius masa depan kolektif umat Islam sedunia. Ini adalah seruan bagi umat Islam agar bermimpi besar, tanpa mengabaikan kewajiban kecil dan berjangka pendek, untuk berpikir secara global sekalipun ketika harus bertindak lokal. Ini adalah seruan untuk percakapan, jaringan, pemikiran ulang, dan pembayangan ulang kemungkinan hidup politik sebagai Muslim. Ini adalah seruan agar kaum muda Muslim terhubung satu sama lain melintasi batas-batas palsu serta berintrospeksi tentang hal-hal moral yang praktis: bagaimana kita dapat secara lebih baik menanggapi kehilangan iman dan takwa, sikap apatis dan korupsi para elite, membela pengungsi, membantu Muslim teraniaya, memfasilitasi kolaborasi ekonomi, mengubah lembaga politik, meningkatkan diskursus keagamaan, memperkaya dialog dan diskursus antara sesama umat Islam melintasi batas sektarian dan nasional, serta meningkatkan pendidikan dan komunikasi lintas jarak, bahasa, dan prasangka?

Semua pertanyaan ini harus dijawab dengan cara yang sekaligus dapat mengalahkan para otokrat dan juga teroris, bukan hanya dalam ideologi masing-masing tetapi juga dalam taktik dan pandangan dunia mereka.
Ketika aktivitas NIIS berada di puncaknya dan media Barat berlomba-lomba menerbitkan cerita paling sensasional tentang pemenggalan kepala dan aksi bunuh diri, sebagai peneliti tentang hal itu saya ingin melampaui berita utama dan memahami apa NIIS sebenarnya dengan menggunakan pikiran saya sendiri. Karena saya skeptis dengan pornografi kekerasan yang diproduksi NIIS khusus untuk media Barat, saya pun mencari publikasi NIIS (seperti majalah mereka yang luks, Dabiq) guna memahami budaya di balik kekerasan mereka yang meluas dan kebiasaan mereka mengkafirkan pihak lain.
Pemahaman saya yang paling baik berasal dari laporan tersembunyi dan diabaikan tentang perilaku anggota dan pendukungnya tentang interaksi mereka. Banyak petunjuk memberikan gambaran bahwa para rekrutan dari Barat, Eropa, dan kulit putih diperlakukan superior, mereka diberi posisi terdepan untuk mengontrol pesan dan bahkan arah, sedangkan para rekrutan dari negara-negara miskin dengan warga kulit lebih gelap secara rutin dipermalukan dan dipinggirkan. Anak-anak diajari kekerasan dan kebencian sejak dini, bukannya pengetahuan, penalaran, dan kasih sayang. Ada perumusan norma hukum dari manual klasik, tetapi tidak memperhatikan sejarah, konteks, dan keragaman; pesan apokaliptik mereka adalah antitesis kebajikan yang begitu esensial bagi tradisi Islam.
Saya tahu bahwa hal-hal ini tidak dapat dibuat-buat para propagandis CIA, dan hal-hal ini mengungkapkan inti NIIS. Di bidang yang penuh teori propaganda dan konspirasi yang sangat besar, data terperinci seperti ini membantu saya memahami para preman dan psikopat yang marah ini, kaum mariqa dan khawarij seperti yang dinubuatkan dan dikutuk Nabi saw., sebagai “anak-anak muda bodoh yang membaca Al-Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka.”

93. Mengupayakan tatanan politik yang adil tidak dapat menggantikan nilai penting doa, penghormatan kepada orang tua, pernikahan lebih baik, persahabatan lebih dalam, komunitas lokal yang kuat, dan, yang paling penting, kepedulian kepada keadilan bagi pihak yang lemah.
Mempertahankan status quo di Dunia Islam adalah angan-angan; sedangkan keinginan mengubahnya tidak. Tatanan sekarang tidak Islami, tidak etis, dan bertentangan dengan masa depan yang layak bagi umat Islam dan umat manusia pada umumnya. Hanya sedikit elite yang menginginkan status quo.
Demi mempertahankan negara despotik, para elite ini bukan hanya harus menindas mayoritas dan membunuh atau membungkam pemikiran moral yang independen, tetapi juga mengubah dan mendistorsi Islam serta mencuci otak umat Islam secara besar-besaran. Negara-negara yang juga hampir gagal ini tidak jauh berbeda dari NIIS. Mereka secara aktif menghilangkan dan mengganti rasa solidaritas umat Islam, serta mempersempit wacana teologis, yurisprudensi, dan etika demi melayani kepentingan mereka secara eksklusif.
Umat Islam, menurut saya, harus menata kembali khilafah sebagai konfederasi pemerintahan di wilayah inti Islam yang melindungi hak asasi manusia, menstabilkan politik dan ekonomi, serta memungkinkan umat Islam mengembangkan beragam pengaturan politik lokal sambil merangkul kesatuan agama dan budaya yang lebih besar. Tatanan seperti itu bukan hanya akan sesuai dengan perintah Ilahi, melainkan juga merupakan satu-satunya alternatif jangka panjang ketimbang menyokong segelintir kelompok zalim dan teroris yang sebenarnya saling memperkuat satu sama lain.

redaksi