19 Juli 2024

Arahbanua.com – PT Pertamina (Persero) Tbk resmi menaikkan harga LPG non subsidi secara bertahap sebesar Rp1.600-Rp2.600 per kilogram (kg) per Sabtu (26/12) lalu. Alasannya, karena terjadi lonjakan harga di level internasional.

“Besaran penyesuaian harga LPG non subsidi yang porsi konsumsi nasionalnya sebesar 7,5 persen berkisar antara Rp1.600-Rp2.600 per Kg. Perbedaan ini untuk mendukung penyeragaman harga LPG ke depan serta menciptakan fairness harga antar daerah,” jelas Pjs Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Sub Holding Pertamina Commercial & Trading Irto Ginting dilansir dari CNNIndonesia.com, Senin (27/12).

Ia menyebut kenaikan harga LPG non subsidi dilakukan guna merespons tren peningkatan harga Contract Price Aramco (CPA) LPG yang terus meningkat sepanjang 2021. Irto mencatat pada November 2021 harga mencapai US$847/metrik ton, harga tertinggi sejak 2014 atau naik 57 persen sejak Januari 2021.

“Penyesuaian harga LPG non subsidi terakhir dilakukan 2017. Harga CPA November 2021 tercatat 74 persen lebih tinggi dibandingkan penyesuaian harga 4 tahun yang lalu,” ujarnya.

Di sisi lain, Irto memastikan kenaikan tak berlaku untuk LPG subsidi 3 Kg yang secara konsumsi nasional mencapai 92.5 persen.

“(LPG subsidi 3 Kg) tidak mengalami penyesuaian harga, tetap mengacu kepada Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah,” imbuh Irto.

Kendati naik harga, namun ia menerangkan bahwa harga LPG Pertamina masih kompetitif, yakni sekitar Rp11.500/Kg per 3 November. Ia menyebut harga LPG di Tanah Air lebih murah dibandingkan Vietnam sekitar Rp23 ribu/Kg, Filipina sekitar Rp 26 ribu/Kg, dan Singapura sekitar Rp31 ribu/Kg.

Ia tak menampik kalau harga LPG Indonesia masih lebih mahal dari Malaysia dan Thailand karena adanya subsidi dari pemerintah kedua jiran RI itu.

“Pertamina akan memastikan stok dan distribusi LPG berjalan dengan maksimal serta melanjutkan edukasi penggunaan LPG yang tepat sasaran,” pungkasnya.(CNN)

redaksi