13 Juli 2024

ARAHBANUA.COM

Saya dulu pernah merasa kecewa apabila sudah berulang-ulang berdoa tetapi belum dikabulkan. Dan perasaan kecewa itu mulai terkikis setelah saya mendapatkan tiga pernyataan baru tentang doa yang belum atau tidak dikabulkan.

Pernyatan pertama dari Ali bin Abi Thalib, “Saya meminta sesuatu kepada Allah. Jika Allah mengabulkannya untuk saya maka saya gembira SEKALI saja. Namun, jika Allah tidak memberikannya kepada saya maka saya gembira SEPULUH kali lipat. Sebab, yang pertama itu pilihan saya. Sedangkan yang kedua itu pilihan Allah SWT.”

Peryataan kedua dari orang tua, “Jika kamu berdoa tidak dikabul-kabulkan, itu pertanda Allah SWT rindu sama doa-doa kamu. Ibarat pengamen, apabila ada pengamen yang suaranya merdu mendekat kepadamu maka kamu akan terus memintanya untuk bernyanyi. Kamu begitu menikmati lagu-lagu itu. Maka berdoa teruslah kepada Allah sebagai persembahanmu kepada-Nya.”

Pernyataan yang ketiga dari istri saya, “Doa itu bukan hanya soal meminta. Doa itu juga ibadah. Jadi bila doa tidak dikabulkan tidak perlu kecewa, insyaAllah dengan berdoa kita telah mendapat pahala ibadah dari sisi Allah SWT.”

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖ

Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS Al-Mukmin: 60)

Setelah meresapi tiga pernyataan tersebut saya lebih menikmati waktu-waktu berdoa. Tugas kita hanya meminta, biarlah Allah Yang Maha Tahu yang menentukan hasilnya. Kita sempurnakan ikhtiar setelah berdoa lalu ujungnya tawakal.

Ibnu Athaillah As-Sakandary dalam kitab Al-Hikam menjelaskan, jangan sampai seseorang melakukan protes kepada Allah SWT dan berburuk sangka kepada-Nya apabila doa dan permintaan tak dikabulkan.

Dianjurkan juga untuk tidak memaksa Allah SWT untuk menunaikan permintaanmu. Ibnu Athaillah berkata:

لاَ تُطَالب رَبَّكَ بِتأَخرِ مطلَبكَ وَلٰكِن طِالب نَفْسَكَ بِتأَخِيرِ اَدَبِكَ

“La tuthallib Rabbaka bita’akhuri mathlabika, walakin thaalib nafsaka bita’akhuri adabika.”
Artinya, “Jangan sampai engkau menuntut Tuhanmu hanya karena permintaanmu terlambat dikabulkan, tapi tuntutlah dirimu sendiri karena terlambat berperilaku baik kepada-Nya.”

Lebih lanjut beliau menjelaskan, apabila permintaan seseorang ditunda, maka dianjurkan untuk menuntut diri sendiri atas keterlambatan pengabulan doa. Sebab seorang hamba telah meminta agar disegerakan jawaban doa, merupakan tindakan yang tidak pantas kepada Allah SWT.

Maka, tuntutan agar doanya seseorang itu dapat terkabul merupakan bukti bahwa yang bersangkutan hanya berdoa agar doanya dikabulkan. Doa itu hanya tendensi tertentu, inilah yang mengurangi kesempurnaan ubudiyah seseorang.

Biasanya, ketika menginginkan sesuatu maka kita akan sungguh-sungguh berdoa kepada Allah SWT, bahkan setiap detik akan dimanfaatkan untuk berdoa kepada-Nya. Hanya saja, terkadang keinginan kita itu tidak segera dikabulkan-Nya. Jika hal ini terjadi maka jangan gampang berputus asa dan berprasangka buruk dengan berpandangan bahwa Allah SWT tidak mengabulkan doa.

Allah SWT mencintai para hamba-Nya melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Dalam kehidupan sehari-hari bisa menyaksikan kasih sayang seorang ibu ketika anaknya disakiti. Ia rela menyerahkan dirinya sebagai tebusan demi keselamatan anaknya. Kasih sayang Allah melebihi hal itu.

Jadi Allah SWT pasti mengabulkan doa. Hanya saja, terkadang Dia tidak memberikan sesuatu yang sesuai dengan permintaan kita, namun yang diberikan-Nya adalah yang terbaik. Ingatlah, Seorang Pencipta lebih tahu tentang yang terbaik bagi hamba-Nya.

Terimalah sesuatu yang diberikan-Nya, dan janganlah berburuk sangka. Belum tentu sesuatu yang dianggap baik, juga baik di hadapan Allah SWT. Belum tentu juga sesuatu yang dianggap buruk, buruk pula di hadapan-Nya. Dia adalah Dzat Yang Maha Mengetahui dan Menguasai segala sesuatu.

 

Penulis: Ustadz Furqon Ibrahim

 

 

 

 

redaksi