21 Juli 2024

Imran Mahathir dan Erdogan ( foto ist )

Oleh: Ramadhan Al-Banjari
Pemerhati Geopolitik & Geostrategi Islam*
arahbanua.com

Jika disebut Dunia Islam atau Moslem World. Semua orang akan paham yang dimaksud. Kumpulan Negara yang mayoritas penduduknya  muslim.

Sedangkan geopolitik global adalah dinamika politik hubungan antar Negara di seluruh dunia. Termasuk di dalamnya dunia Islam.

Dinamika hubungan antar Negara secara mendunia (global) tidak bisa dilepaskan dari suatu titik peristiwa dalam sejarah dunia .Yaitu perang dunia kedua yang berakhir pada 1945 dengan dijatuhkannya dua bom atom ke daratan Jepang. Dampaknya yang sangat mendalam,masih bisa dirasakan sampai sekarang, tidak hanya oleh bangsa Jepang, namun dunia mengenangnya demi tidak terulangnya tragedi mengerikan tersebut.

Sejak itu Negara-negara bangsa baru banyak berdiri merdeka secara politik dan militer namun belum berhasil merdeka sempurna ketika ditinjau dari segi ekonomi dan sosial-budaya, karena begitu kuatnya dampak penjajahan era kolonialisme sebelumnya.

Namun dalam dua puluh tahun terakhir saya membaca adanya pergeseran keseimbangan kekuatan politik global sebagai hasil perkembangan politik yang luar biasa di Turkiye.

Turkiye baru mengalami politik dalam negeri yang stabil, terbebas dari kudeta militer berkali-kali, sejak berkuasanya partai AKP pimpinan Tayyip Recep Erdogan dalam dua puluh tahun terakhir (2003-2023).

Sejak itu Turkiye tumbuh pesat menjadi kekuatan kelas dunia yang tidak bisa diremehkan siapapun.

Uni Eropa tidak berani menerima Turkiye menjadi anggota sudah lebih dua puluh tahun. Ketika Turkiye dipimpin Erdogan, Uni Eropa semakin ragu-ragu menerimanya sebagai anggota, padahal semua syarat sudah terpenuhi. Hanya satu yang mengganjal.  Turkiye adalah satu dari seluruh anggota dunia Islam, yang semakin kuat dalam semua segi: politik, ekonomi, militer, iptek, dan budaya jatidirinya.

Tetapi diaspora Turkiye tidak terbendung. Khususnya di Eropa, AS, dan sekarang sedang merambah benua Afrika. Mereka bersaing ketat dengan diaspora India yang mayoritas sukses menjadi pimpinan tertinggi di perusahaan-perusahaan teknologi tinggi AS.

Turkiye pula yang pertama mempertanyakan hak prerogatif veto  lima Negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB yang merupakan warisan perang dunia kedua: AS, Rusia, China, Inggris, dan Perancis. Erdogan bahkan berpidato di depan forum PBB bahwa dunia sekarang sudah lebih besar dari lima (merujuk kelima Negara itu). Artinya hak veto mereka sudah saatnya diakhiri supaya keadilan merata bagi semua Negara anggota PBB.

Tetapi mengapa dunia Islam selama dua puluh tahun ini kurang mengapresiasi posisi Turkiye?

Ketika PM Pakistan adalah Imran Khan, Ia sempat berdekatan dengan Erdogan demi sebuah aliansi Islam, bahkan sempat mengajak PM Malaysia Mahathir Mohammad. Sebuah aliansi tiga Negara Islam waktu itu hampir terbentuk. Namun kemudian gagal, akibat tarikan geopolitik dunia yang dimainkan oleh AS, China, Rusia, India, dan Uni Eropa.

Sekarang dunia semakin diwarnai oleh berbagai macam aliansi seperti BRICS yang terbaru, juga ada Uni Afrika, Uni Eropa, ECOWAS, ASEAN, dll.

Sedangkan aliansi dunia Islam seperti OKI sudah lama hilang ditelan arus geopolitik global, khususnya sejak pergolakan dunia Arab pada 2011 ( Arah Spring ) yang masih belum tuntas sampai sekarang.

Dunia Arab merupakan bagian terbesar kedua dari dunia Islam dari segi jumlah penduduk muslimnya setelah Indonesia. Kekuatan ekonomi mereka paling besar bila ditotal, dibanding bagian dunia Islam lainnya digabung jadi satu. Ini merupakan faktor mereka menjadi pusat perebutan pengaruh kekuatan-kekuatan global seperti AS, China dan Rusia.

Di tengah mereka ada Negara zionis Israel yang pendiriannya dibantu sepenuh hati oleh Inggris pada 1948. Dari sini segala bentuk konflik dan pertengkaran berlaku di dunia Arab. Membuatnya tidak berdaya menaikkan posisi kekuatannya dalam konstelasi global.

Dunia Arab dibuat serba tergantung ke Barat dari segi militer. Kemudian musuhnya Israel dan Iran dibantu oleh AS, Eropa, Rusia, dan China, agar Arab semakin takut.

Turkiye sekarang sejak  Erdogan memulai periode kepresidenannya  yang kedua tampak semakin gencar mendekati dunia Arab demi mengimbangi pengaruh buruk dari keempat kekuatan dunia di atas.

Bahkan Turkiye mampu membangun hubungan yang semakin baik dengan Afrika. Erdogan menyatakan bahwa kami ( Turkiye) membangun hubungan baik dengan semua Negara dunia bukan demi keuntungan sepihak kami sendiri, namun demi kebaikan timbal balik yang seimbang. Inilah hubungan antar Negara yang adil, yang menyiratkan kritiknya terhadap kekuatan dunia lain yang selalu mengambil keuntungan sepihak dalam membina hubungan dengan Negara-negara yang dianggap lemah dan miskin. Namun Turkiye justru ingin membantu Negara-negara yang diperlakukan tidak adil itu untuk bangkit  maju bersama.

Namun tentu saja kekuatan-kekuatan besar tadi tidak rela. Pasti. Mereka berusaha mencegah dengan segala cara.

Lihatlah kejatuhan PM Pakistan Imran Khan. Lihatlah isolasi yang dialami Afghanistan. Sejak Taliban memenangkan perang 20 tahun melawan NATO. Termasuk upaya mereka menjatuhkan Erdogan pada 15 Juli 2016 dalam kudeta militer yang gagal, dan AS tetap melindungi Fethullah Gulen, pemimpin di balik layar kudeta, yang bermukim di AS. Permintaan sah ekstradisi oleh Turkiye selalu ditolak baik oleh presiden Donald Trump maupun Joe Biden.

Semoga saja PM Malaysia Anwar Ibrahim mampu membangun soliditas kekuasaannya di dalam negeri dan kemudian berpotensi membangun aliansi dengan Turkiye. Sejauh pengamatan saya, hanya dua Negara ini yang bisa diharapkan oleh dunia Islam demi melawan tarikan-tarikan geopolitik global oleh AS, Uni Eropa, China, Rusia, dan India.

Wallaahu a’lam bishowab.

redaksi