21 Juli 2024

Reza Nasrullah

Penulis: REZA NASRULLAH
arahbanua.com, Banjarbaru-

2. Da’wah bukanlah propaganda kepada golongan yang berdasarkan madzhab fiqh tertentu, atau berdasarkan konsep perjuangan tertentu. Da’wah pada dasarnya adalah mengajak manusia untuk selalu introspeksi tentang diri dan ‘aqidahnya. Sehingga sepanjang hidupnya ia menerapkan mekanisme control pada dirinya. Dengan begitu ia selalu ingat kepada jawaban siapa dia, untuk apa dia hidup, bagaimana seharusnya dia menjalani hidup dan akan kemana nanti setelah mati.

Jadi da’wah adalah mengajak manusia untuk menyesuaikan segala keyakinan, pola pikir, perasaan dan tingkah lakunya dengan ketentuan-ketentuan, garis-garis dan pedoman dari ALLAH SWT saja. Ia bukan mengajak manusia untuk bergabung dengan golongan/kelompok/jamaah/ormas/partai politik, atau aliran madzhab fiqh, atau aliran ideology buatan manusia, atau aliran perjuangan tertentu yang tidak sesuai dengan tujuan Islam itu sendiri.

Sebagaimana Rasulullaah Muhammad SAW mengajak manusia untuk beriman kepada kalimat LAA ILAAHA ILLAA ALLAH dulu. Kemudian beliau mengajak orang lain untuk mengakui beliau sebagai utusan ALLAH SWT. Ini tampak jelas dalam urutan dua kalimah syahadat yang tidak akan pernah kita balik dalam menda’wahkannya.

Sebenarnya beliau bisa menghimpun orang-orang dulu di sekitar beliau , menjadikan mereka pengikut beliau, baru setelah itu beliau menyuruh mereka taat kepada ALLAH SWT. Tetapi kenyataannya tidak. Bahkan beliau ditetapkan oleh ALLAH SWT boleh ditaati pengikutnya setelah ada izin dari ALLAH SWT (lihat QS 4: 64). Dan taat kepada Rasul berarti taat kepada ALLAH SWT (lihat QS 4:80).

Golongan yang sah dalam hal ini hanyalah golongan ALLAH, yakni kumpulan orang-orang yang sama-sama sepakat untuk menyesuaikan segala sesuatu tentang diri mereka dengan pedoman yang benar dari ALLAH SWT saja. (simaklah QS 3: 79, 12: 108, 24: 35-38).

3. Sehubungan dengan prinsip no. 2 di atas, maka materi da’wah selalu memiliki urutan sbb: pertama, kita harus berbicara seputar ‘aqidah dulu. Kita perlu mengajak manusia untuk introspeksi tentang ‘aqidah ini. Apakah tauhid kita sudah betul? Kalau masih salah, kenapa? Bagaimana memperbaikinya? Kita tidak dapat menyimpulkan bahwa orang yang sudah rajin sholat, puasa, zakat bahkan haji sudah mentauhidkan ALLAH SWT. Kita perlu mengeceknya dari waktu ke waktu, terus menerus. Sebab ibadah yang tidak atas dasar tauhid tidak ada pahalanya di sisi ALLAH SWT yang berarti sia-sia.

Kedua, apabila iman sudah meningkat, sudah bersih sedikit demi sedikit, barulah kita bebrbicara tentang akhlak dan ibadah secara bertahap. Dengan begitu, pertumbuhan teori (ingat ‘aqidah adanya di dalam hati) sejalan dengan pertumbuhan aplikasinya dalam wujud akhlak dan ibadah. Demikian seterusnya sampai manusia tsb kembali menghadap ALLAH SWT dalam keadaan ridho dan diridhoiNya (lihat QS 89: 27-30).

Dari prinsip no 2 dan 3 ini kita dapat menyimpulkan bahwa da’wah bukanlah mengajak manusia untuk berpecah-belah (walaupun yang diucapkan sang da’i adalah kata PERSATUAN) ke dalam berbagai aliran madzhab fiqh, apalagi ideologi politik buatan manusia. Da’wah pada hakikatnya adalah mengajak manusia untuk BERSATU di bawah bendera ketaatan kepada ALLAH SWT yang berarti bersatu di seputar pemahaman, penghayatan, dan pengamalan pokok agama yakni ‘aqidah, dan sekali lagi BUKAN cabang agama yakni fiqh) yang sama.

Itulah sebabnya da’wah yang benar adalah mengajak manusia memahami-menghayati-dan mengamalkan ayat-ayat yang muhkamat, yaitu ayat yang sangat jelas/tegas maksudnya sehingga tidak ada peluang penafsiran yang bermacam-macam kecuali oleh sang penafsir yang tidak ikhlas. Ayat-ayat ini umumnya berbicara seputar ‘aqidah islamiyyah. Karena hal inilah yang akan membawa kepada persatuan hati sekaligus kekuatan melawan gempuran sengit kejahiliyyahan/sekularisme.

4. Da’wah adalah suatu proses. Ia bukan aktifitas insidental dan sambilan. Karena ia adalah suatu proses maka harus ditangani secara serius dan sepenuh jiwa raga sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW bersama sahabat beliau.

5. Spektrum aktifitas da’wah adalah kaaffah, utuh dan terintegrasi. Ia meliputi senyum yang ikhlas, menuntut ilmu dan teknologi serta mengamalkannya untuk kemaslahatan ummat, bukan diri sendiri saja, mengusahakan perbaikan ekonomi dan pendidikan, sampai kepada perang non-fisik (yakni perang pemikiran,konsep, dsb) dan atau fisik/bersenjata. Oleh sebab itu jihad dalam pengertian perang fisik dilaksanakan secara berakhlak, tidak semena-mena membunuh musuh. Karena ia dilakukan selalu dalam konteks da’wah. Jadi tidak terbalik: da’wah untuk perang. Melainkan perang dalam rangka da’wah. Hal ini mudah dipahami dengan menyaksikan kenyataan bahwa setelah Rasulullah menang perang melawan musyrikiin Makkah, beliau terus merencanakan program-program da’wah baik di dalam negeri (sebagai kontrol dan konsolidasi) maupun ke luar negeri (sebagai misi menerangi hati-hati manusia yang belum sempat tersentuh cahaya da’wah Islam). Jadi beliau tidak tinggal diam saja.

Prinsip da’wah untuk perang hanya cocok bila perang yang dimaksud adalah perang melawan hawa nafsu diri kita sendiri.

 

Kiranya dengan memahami uraian di atas kita dapat menentukan sikap dan tindakan terhadap berbagai kegiatan da’wah yang banyak ditemui dengan berbeda-beda aliran, kelompok dan metodanya. Dengan begitu kita diharapkan tidak terjerumus ke dalam aktifitas sesat dan menyesatkan, yang sering terlalu tergesa-gesa dalam menyimpulkan batas-batas, hukum-hukum, vonis, dan ketentuan-ketentuan agama, dari dalil-dalil AL-QUR’AN dan hadits. Padahal para ulama yang hidup pada zaman yang lebih dekat dengan zaman Nabi SAW saja sangat berhati-hati dalam berijtihad, dan sangat takut mengeluarkan fatwa, kalau-kalau salah dan menyesatkan ummat. Sehingga kalaupun akhirnya mereka mengeluarkan fatwa atau kesimpulan dari penelaahannya mereka menambahkan bahwa itu hanya boleh dipakai setelah dibaca kembali dalil-dalilnya.

Semoga ALLAH SWT memberikan hidayah dan pertolonganNya kepada kita yang menyadari tanggungjawab kita sebagai pengikut NabiNya yang terakhir, Muhammad SAW. Aamiin robbanaa wa taqabbal du’aa. *****selesai

 

 

redaksi