21 Juli 2024

Ulama modernis Seyyid Bey ( foto ist )

Penulis: OVAMIR ANJUM
Editor: Reza Nasrullah
arahbanua.com, Banjarbaru-

Kebutuhan agama akan khilafah tidak dipertanyakan sampai abad ke-20, ketika argumen menghapus Khilafah Utsmaniyah disuarakan kaum nasionalis Turki dan diterima, setidaknya di tengah para elite, akibat seabad sekularisasi dan Eropanisasi. Momen menentukan dalam transisi ini adalah pidato selama tujuh jam oleh seorang ulama modernis Utsmaniyah, Seyyid Bey, di Majelis Nasional Besar Turki (MNBT) pada 1924, ketika dia menyatakan mendukung terwujudnya sebuah Republik Turki, yang tragisnya, atas dasar Islam.

62. Kampanye sekularisasi agresif para Kemalis dan de-Islamisasi kehidupan sosial, yang disusul oleh kekerasan pada dekade-dekade berikutnya, tentu saja bukan bagian dari rencana Seyyid Bey, tetapi dia bukanlah ulama pertama atau terakhir yang dijadikan sebagai tentara intelektual tetapi kemudian dibuang orang kuat. Apa yang dilakukan Atatürk selanjutnya boleh dikatakan mengilhami Hitler dan Mussolini.

63. Pembelaan teoretis yang paling berpengaruh terhadap penghapusan khilafah atau apa yang mungkin disebut sekularisme politik muncul setelah pembubarannya ketika seorang ulama Mesir lulusan Al-Azhar, ‘Ali Abd al-Raziq (1888–1966), menulis al-Islām wa-uṣūl al-ḥukm (Islam dan Fondasi Hukum, 1925). Dia berpendapat bahwa Islam adalah agama pribadi serta semua tindakan politik Nabi saw. dan penerusnya (yaitu, khalifah) adalah kebetulan dan terpisah secara konseptual dari Islam sebagai agama. ‘Abd al-Raziq pernah belajar dua tahun di Oxford ketika pendidikannya terputus akibat Perang Dunia I, dan keluarganya berperan mendirikan Partai Konstitusionalis Liberal (Ḥizb al-Aḥrār al-Dustūriyyīn, memisahkan diri dari Wafd, yang merupakan partai antikolonial nasionalis sekuler; agenda Ḥizb al-Aḥrār lebih sekuler lagi karena menganjurkan peniruan negara-negara Barat). ‘Ali Abd al-Raziq sendiri adalah seorang politisi dan telah mencalonkan diri melalui partai itu, meski gagal, dalam pemilihan Parlemen 1923–1924.64Singkatnya, dia menulis kitab itu sebagai seorang politisi dengan agenda yang jelas, bukan sekadar ulama, meskipun belakangan khalayak telah salah memahami karyanya sebagai bid’ah heroik dengan kedalaman mistik. Bukunya memaksakan pembacaan ahistoris tentang misi Rasulullah juga para khalifah berikutnya dan pemahaman modernitas yang sama dangkalnya. Para ulama al-Azhar mengutuk bukunya dan secara resmi memecatnya, selain itu para ulama terkemuka di Dunia Islam juga menulis banyak sanggahan terperinci terhadap bukunya.

65. Sebetulnya, buku kontroversial ‘Ali Abd al-Raziq akhirnya justru memusatkan perhatian para ulama terkemuka abad ke-20 pada pembelaan khilafah, dan menjadi contoh terkini dari konsensus baru dalam periode modern di kalangan otoritas Islam terkemuka di seluruh dunia. Namun, kekuatan argumen sering kali bukan pada kekukuhan teoretisnya, melainkan pada ketepatan momennya. Sudah terlanjur kaum nasionalis dan sekularis Arab telah mendapatkan pendukung agenda mereka berkat buku kontroversial tsb. Tulisan ini berupaya mengambil kembali momentum pembelaan khilafah, meskipun membutuhkan waktu proses yang panjang untuk mengalahkan kaum nasionalis dan sekularis yang telah jadi pandemi di dunia Islam.

 

 

 

redaksi