20 Juli 2024

Ilustrasi Ummat Bersatu ( foto ist )

Penulis: OVAMIR ANJUM
Editor: Reza Nasrullah
arahbanua.com, BANJARBARU-

 

Agar pembelaan terhadap khilafah bermakna, kegagalan yang sering terjadi dalam pemikiran dan praktik politik Muslim di masa lalu harus diakui secara terbuka dan secara sistematis dibedakan dari visi persatuan politik Muslim yang otentik dan layak di dunia modern. Visi seperti ini tidak bisa menjadi ahistoris, atau utopis, atau sekadar rekapitulasi risalah-risalah atau lembaga-lembaga abad pertengahan. Lebih jauh lagi, persatuan semacam ini harus mengakomodasi susunan politik, budaya, dan denominasi agama yang berlaku di aras lokal, yang mengatur hajat antara sesama Muslim maupun hak-hak minoritas non-Muslim. Tugas menggambarkan dan membayangkan visi semacam ini membutuhkan lebih dari sekadar makalah, tetapi juga satu generasi ahli hukum Islam, teolog, ahli teori politik, pengusaha, dan pemimpin visioner.

Apa yang saya tawarkan di sini hanyalah justifikasi sederhana dan penggambaran imajinatif dari visi ini secara umum, yang dimulai dengan sedikit fakta sejarah.
Profesor David Wasserstein, seorang cendekia keturunan Yahudi sekaligus pengkaji Yudaisme dan Islam yang berkhidmat di Vanderbilt University, baru-baru ini menerbitkan sebuah studi tentang akar ideologis dan agama NIIS dan khilafahnya, Black Banners of ISIS: The Roots of the New Caliphate.
25. Beberapa tahun sebelumnya, dia juga menyampaikan pidato mencerahkan dan berpendapat bahwa Islam abad pertengahan lah (yaitu Islam versi Khilafah Lama) yang menyelamatkan Yudaisme dari kepunahan.
Islam menyelamatkan kaum Yahudi. Tidak populer dan menyenangkan dunia modern, tetapi klaim ini adalah kebenaran sejarah. Argumennya ganda. Pertama, pada tahun 570 M, ketika Nabi Muhammad lahir, kaum Yahudi dan Yudaisme sedang punah. Dan kedua, kedatangan Islam menyelamatkan mereka, memberikan konteks baru di mana mereka tidak hanya bertahan, melainkan berkembang, meletakkan dasar bagi kemakmuran budaya Yahudi berikutnya—juga dalam dunia Kristen—melalui periode abad pertengahan ke dunia modern. … Jika Islam tidak datang, kaum Yahudi di Barat akan menghilang dan kaum Yahudi di Timur hanya akan menjadi kultus Oriental.

26.Tidak jelas apakah profesor ini melihat ironinya. Khilafah historis adalah prasyarat keberadaan peradaban Islam, yang menghasilkan hukum, teologi, dan visi keagamaan yang, meskipun tidak sempurna (ingat asimtot!), berhasil melindungi komunitas Kristen dan Yahudi yang dinamis secara intelektual dan menjadi tuan rumah bagi kebangkitan sains dan filsafat Helenistik.

Sebelum mengabaikan fakta ini dengan tergesa-gesa berkata “Sudahi nostalgia itu!” dan “Roda waktu tidak dapat dibalikkan,” kita harus melihat lebih teliti kontras antara dua contoh yang dibberikan oleh Wasserstein. Seandainya tidak ada khilafah dan pemerintahan terpadu selama berabad-abad atas wilayah yang sangat luas, yang dicirikan oleh perdamaian, stabilitas, dan pertukaran budaya dan komersial, dan seandainya persatuan antara wilayah-wilayah yang ditaklukkan oleh khilafah Islam berakhir sesaat setelah wafatnya Nabi saw. (artinya persatuan runtuh tak lama setelah ia dimulai), skenario alternatif yang akan muncul adalah zaman kegelapan menimpa kerajaan-kerajaan kecil atau, lebih buruk lagi, merajalelanya dendam kesumat dan aksi tuntut balas di antara pelbagai suku, seperti yang berlaku atas kaum Khawarij (analogi yang cocok untuk NIIS saat ini).
Bani Umayyah, Abbasiyah, maupun Utsmaniyah memang bukanlah khilafah yang sempurna—ada penguasanya yang benar-benar tiran—tetapi, secara keseluruhan mereka, berikut elite agama dan politik Muslim, semuanya mengakui nilai terpenting dari persatuan masyarakat dan keutamaan hukum dan ketertiban.
Cita-cita konsensual yang dijunjung tinggi oleh para Muslim terdidik inilah yang sekarang kita bahas.

 

 

 

redaksi