12 Juli 2024

Ilustrasi Ummat Islam bak buih di lautan ( foto ist )

Penulis : OVAMIR ANJUM
Editor : Reza Nasrullah
arahbanua.com, BANJARBARU –

 

“Di seluruh dunia, negara-negara genosidal menyerang umat Islam,”
demikian judul opini yang ditulis sosiolog Arjun Appadurai, “Apakah Islam benar-benar target mereka?” Dan sub-judulnya berbunyi: “Israel memenjarakan orang Palestina dan Myanmar mengusir orang Rohingya, sebuah refleksi terhadap kesulitan minoritas biologis etnik dan ras.”
19. Terpikirnya juga, gumam saya. Selama beberapa dekade, pertanyaan ini telah diajukan umat Islam kepada diri mereka sendiri; banyak yang sudah tahu jawabannya. Opini ini sebenarnya banal, tetapi kebanalan inilah—yang berasal dari seorang sosiolog India-Amerika, bukan anggota al-Qaeda yang siap membom untuk balas dendam—yang menarik perhatian saya. Kebanalan darah umat Islam, tepatnya.
Ketika negara-bangsa mayoritas Muslim, bersama negara-negara berkembang lainnya, gagal atau menjadi tidak layak huni, Dunia Utara malah mendirikan tembok. Dalam menghadapi bencana perang, kolonialisme, genosida, korupsi, polusi, dan/atau kelaparan, umat Islam di seluruh dunia—bahkan yang ‘Islam KTP’ sekalipun—mau bergabung dengan gerakan pan-Islamisme modern yang berjanji melindungi mereka dari penghinaan ini. Di dunia global—di mana Perang Barat Melawan Teror.

20. Secara paradoks, telah menonjolkan keislaman Muslim di mana-mana—Israel, Cina, Myanmar, India, dan banyak negara lain merasa bebas menyelesaikan “masalah Muslim” mereka dengan impunitas. “Kami berkonflik dengan seluruh Dunia Islam dan seluruh dunia Arab,” kata seorang politisi Israel, pernyataan yang mencerminkan sentimen anti-Islam di Eropa-Amerika dan wilayah-wilayah lain.

21.Umat Islam mau tidak mau teringat pesan Nabi saw. bahwa suatu hari nanti bangsa-bangsa akan memangsa mereka, bukan karena jumlah mereka sedikit, tetapi karena jumlah mereka yang banyak akan menjadi sia-sia seperti buih di tengah lautan.

22.Masalah ini tidaklah baru, dan tidak akan hilang begitu saja. Pada akhir Perang Dingin, para pakar bahkan menyebut Islam sebagai masalah bagi hegemoni total budaya Barat. “Islam memiliki perbatasan yang berdarah,” kata Samuel Huntington dalam artikelnya yang terbit pada 1993 berjudul “The Clash of Civilizations.”

23. Huntington mengakui inspirasi gagasannya datang dari para penulis di kedua sisi pemisahan Islam-Barat. Dia mengutip seorang Muslim sekuler asal India yang menulis, “Di negara-negara Islam dari Maghreb hingga Pakistan perjuangan untuk mewujudkan tatanan dunia baru akan dimulai,” dan Bernard Lewis, yang menulis, “Ini tidak kurang dari benturan peradaban—reaksi penantang lama yang mungkin irasional tetapi menyejarah terhadap tradisi Yudeo-Kristen kita, [nilai] sekuler kita di masa kini, dan ekspansi keduanya di seluruh dunia.” Visi Lewis dan Huntington itu agresif, tidak akurat, dan tidak ramah, tetapi berunsur realis dan telah mengungguli ribuan protes akademis yang menyatakan bahwa tidak ada benturan semacam ini karena, menurut mereka, tidak ada peradaban yang berbeda. Padahal ada.
Sejak Huntington menulis, perbatasan ini menjadi lebih berdarah, dan meluas. Di luar perbatasan ini, organ-organ dalam tubuh yang disebut Nabi Muhammad saw. sedang kalah dan berdarah seiring penyerangan oleh tubuh itu sendiri.
Orang Palestina ditembak dan dikucurkan darahnya oleh negara penjajah etnoreligius sekaligus apartheid.
Orang Rohingya dibakar, diperkosa, dan dimusnahkan negara etnoreligius dan nasionalis lain, seiring ibu-ibu Rohingya melahirkan anak-anak pemerkosa Myanmar mereka secara massal. Orang Kashmir dan jutaan Muslim India setiap harinya kehilangan martabat, kemanusiaan, dan kehidupan mereka akibat nasionalisme etnik yang diilhami agama.
Di Cina, Muslim Uighur ditindas di kamp-kamp penyiksaan dan pencucian otak, di sana para prianya dibunuh sementara para wanita dipaksa hidup bersama pria Han Cina. Sampai saat ini, tidak ada satu pun negara mayoritas Muslim di kawasan itu yang memprotes keras, bahkan jalanan Muslim juga senyap, sementara protes signifikan hanya datang dari kelompok hak asasi manusia sekuler dan, semakin seringnya, dari negara-negara yang secara strategis memusuhi kebangkitan Cina.
Muslim di Republik Afrika Tengah sedang dimusnahkan secara etnik.
24. Yaman, Suriah, Libya, Irak, Somalia, Sudan, dan Afghanistan terlibat dalam perang saudara atau kerusuhan mendalam yang seolah tanpa akhir.
Konflik regional antara dua negara macan kertas yang hidup dari bahan bakar fosil, Arab Saudi dan Iran—yang digambarkan sebagai konflik sektarian Syi’ah-Sunni oleh para elite di kedua belah pihak yang mencari pengalihan atas kekurangan mereka—bisa menjerumuskan seluruh wilayah ini ke dalam perang regional nan mengerikan yang dapat dengan mudahnya melibatkan seluruh dunia.
Rintangan terbesar bagi penyatuan dan kolaborasi juga merupakan alasan yang tepat mengapa penyatuan dan kolaborasi harus dilakukan.

 

 

 

redaksi