19 Juli 2024

(Ambin Demokrasi)

Oleh: Noorhalis Majid

 

Setiap membicarakan Pemilu, mestinya yang terungkap adalah narasi-narasi, tentang hal apa saja yang harus diperbaiki – dibenahi – disempurnakan, sehingga diperlukan politisi dan pemimpin baru yang mampu melakukannya.

Mau apa dengan Pemilu? Apa sesungguhnya yang ingin diperbaiki? Tentu saja menyangkut kehidupan yang mensejahterakan, memberikan keadilan bagi seluruh warga. Semua itu hanya terwujud dari kebijakan para politisi yang berpihak pada kepentingan publik.

Berbicara soal politik yang umurnya sudah sangat tua ini, ada baiknya belajar dari Cicero, atau Marcus Tullius Cicero, filsuf, negarawan dan politisi Romawi Kuno, (hidup antara 106 SM-43 SM), bahwa tugas politik itu suci, suatu amanat yang diberikan Tuhan pada manusia. Dalam satu dialog dengan kakeknya Scipo Arficanus, ia mengatakan, “ketahuilah Africanus, jalan masuk ke surga terbuka bagi orang yang berjasa kepada negaranya”.

Bagi Cicero, politik itu adalah mengabdi secara tulus untuk kepentingan publik, bukan mengumbar dan memenuhi kepentingan pribadi, kelompok atau golongannya saja. “Sangat berbahaya jika ambisi pribadi mendominasi kehidupan. Sebuah pelayanan publik, akan terlaksana dengan baik, jika kepentingan pribadi ditekan sedemikian rupa, sehingga kepentingan publik menjadi yang utama” kata Cicero.

Lantas, politisi seperti apa yang harus dipilih dalam Pemilu, agar kepentingan publik lebih diutamakan? Cicero mengatakan, di dalam diri manusia terdapat emosi yang baik, yang disebut eupatheia (bebas dari hasrat personal), Ia menyebut constatiae (bahasa lain dari konstitusi) yang mengatakan bahwa negara yang kukuh, tidak boleh dikendalikan oleh perilaku manusia yang berhasratnya berlebih-lebihan.

Karena itu, pilih yang tidak suka berlebih-lebihan, yang sederhana, yang benar-benar menjadi wakil, sehingga perbuatan dan prilaku kesehariannya, lebih banyak memikirkan orang banyak, bukan dirinya sendiri. Jangan memilih yang tidak jelas pikiran dan perilakunya, apalagi mahayabang. (nm)

redaksi