20 Juli 2024

Oleh: REZA NASRULLAH

Bismillaahirrahmaanirrahiim

pengantar artikel:

RESEP ISLAMISASI IPTEK tinggal pakai oleh mahasiswa dan dosen pembimbing skripsi maka insya Allah lulusannya akan menjadi ulil-albaab sekaligus khalifatullaah fil ardhi, bukan mufsidiin fil ardhi.

 

Saking jauhnya jarak antara realita dengan idealita, maka islamisasi iptek adalah
utopia bagi sebagian besar ummat, khususnya para sarjananya. Namun seberapa
utopisnya pun masalah ini, ia tetap nyata dan begitu gamblang terpampang dalam
Al Qur’anul Kariim. Mari kita renungkan ayat ayat berikut:
ayat 190-193 surah 3: bagaimana penguasaan iptek oleh ulil-albaab membuahkan kesadaran robbaniyah=iptek yg islami. ayat 179 surah 7: lahum quluubun laa yafqohuuuna bihaa…..= betapa sayangnya kalau sarjana yg kita didik sekian lama ternyata lalai dari ayat-ayat ALLAH, karena proses pendidikan atau penanaman ilmu yg sekuler. PERTANYAANNYA: APAKAH OUTPUT PENDIDIKAN KITA SEJAK SD SAMPAI PERGURUAN TINGGI MENGHASILKAN ULIL-ALBAAB? DGN TINGKAT PRODUKSI SEKIAN SARJANA/SEMESTER, KALI SEKIAN PULUH TAHUN, HARUSNYA PARA ULIL-ALBAAB INI TELAH MAMPU MENGHADIRKAN INDONESIA YG ISLAMI?
Surat An
Najm (surat no 53 dalam Al Qur’anul Kariim) ayat 29 30 telah
men ginspirasi saya. Mengapa? Karena ayat ayat ini memerintahkan manusia yang
beriman kepada Al Qur’an untuk melakukan hal hal berikut:
1. Berpalinglah dari orang orang yang mengabaikan peringatan ALLAH ‘AZZA WA
JALLA. Peringatan itu berkaitan dengan kehidupan a khirat. Sedangkan mereka yang
mengabaikan peringatan ini HANYA MENGINGINKAN KEHIDUPAN DUNIAWI,
dan tidak peduli sama sekali dengan kehidupan sesudah kematian yakni kehidupan
akhirat.
2. BAHWA MEREKA YANG MENGABAIKAN PERINGATAN ALLAH ‘AZZA
WA JALLA TENTANG KEH IDUPAN AKHIRAT INI MEMILIKI ILMU
SETINGGI TINGGINYA HANYA SEBATAS SEPUTAR KEHIDUPAN DUNIAWI.
3. Serahkanlah nasib siapa yang menerima peringatan dan mendapat hidayah maupun
siapa siapa yang menolak peringatan dan memilih hidup tersesat dalam rimba raya
kehidu pan duniawi sepenuhnya kepada ALLAH ‘AZZA WA JALLA yang pasti
mengetahui mereka dengan ketelitian 100%/tanpa cacat secuilpun.
Saya jadi teringat dengan suasana kehidupan kita di abad 21 ini yang begitu maju
ipteknya sekaligus dibanggakan oleh para penikmatnya, sedemikian rupa sehingga
timbul pertanyaan dalam hati: Apakah kemajuan iptek ini telah membuat semakin
banyaknya manusia yang menerima peringatan ALLAH ‘AZZA WA JALLA tentang
kehidupan akhirat atau sebaliknya, semakin banyak manusia yang hanya
menginginkan kehidupan duniawi dan tidak mau peduli dengan akhirat?
Kira-kira apakah banyaknya koruptor menunjukkan mereka semakin menghayati
kehidupan akhirat atau mengabaikan peringatan ALLAH SUBHANAHU WA
TA’ALA tentang akhirat?
Kemudian muncul lagi ayat ini, surat Al-Kahfi ayat 18: “Dan bersabarlah kamu
bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari
dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari
mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti
orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa
nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”.
Ayat di atas benar-benar menasihati kita yang beriman agar merenungkan kehidupan
kita saat ini, apakah kita semakin cinta dunia dan bergelimang perhiasan dunia yang
dengan sangat baik mampu dihadirkan oleh iptek? apakah kita semakin lalai
mengingat ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA? apakah kita semakin mengikuti
hawa nafsu keinginan semata dan selalu melampaui batas-batas larangan ALLAH
‘AZZA WA JALLA?
Saya tidak meragukan sedikitpun bahwa kemajuan iptek telah memungkinkan
semakin banyaknya ummat yang beribadah ke tanah suci dengan pesawat terbang,
semakin megahnya bangunan masjid-masjid, semakin luasnya jangkauan pesan-pesan
da’wah melalui teknologi internet, telepon genggam, dan televisi. Tetapi pada saat
yang sama kemajuan iptek juga telah, sedang dan akan terus melahirkan
mudhorot-mudhorot yang semakin banyak. Misalnya kerusakan lingkungan,
peperangan, penindasan, legalisasi hal-hal yang haram( seperti riba/bunga bank/uang
kertas), maraknya narkoba, pelecehan seksual dan perzinahan yang semakin terbuka,
kecintaan kepada dunia dan menipisnya keimanan kepada akhirat.
kecintaan kepada dunia dan menipisnya keimanan kepada akhirat.
Semua sepak terjang manusia tentu tidak lep
Semua sepak terjang manusia tentu tidak lepas dari ilmu yang ada di otaknya. Jika as dari ilmu yang ada di otaknya. Jika ilmu itu baik, sehat, bersih, tertata dengan sempurna, menyambungkan antara ilmu ilmu itu baik, sehat, bersih, tertata dengan sempurna, menyambungkan antara ilmu duniawi dan ukhrowi, maka perilakunya akan baik dan membentuk kehidupan yang duniawi dan ukhrowi, maka perilakunya akan baik dan membentuk kehidupan yang baik di atas bumi ini. Namun sebaliknya jika ilmu yang dipebaik di atas bumi ini. Namun sebaliknya jika ilmu yang diperolehnya lewat rolehnya lewat pendidikan sejak SD sampai perguruan tinggi adalah ilmu yang sekuler, yang pendidikan sejak SD sampai perguruan tinggi adalah ilmu yang sekuler, yang mengabaikan kehidupan akhirat, maka dapat dipastikan hasilnya adalah peradaban mengabaikan kehidupan akhirat, maka dapat dipastikan hasilnya adalah peradaban yang kacau, yang kontradiktif (kadang baik, kadang jahat), yang kacau, yang kontradiktif (kadang baik, kadang jahat), ideologiideologi–politikpolitik–ekonomiekonomi–sossosialial–budaya yang rusak/beracun dan racunnya budaya yang rusak/beracun dan racunnya turunturun–temurun. temurun.
Jika Nabi Adam ‘alaihissalaam dan kita keturunan beliau ditakdirkan menjadi
Jika Nabi Adam ‘alaihissalaam dan kita keturunan beliau ditakdirkan menjadi khalifah atau mandataris ALLAH ‘AZZA WA JALLA di bumi ini, apakah kehidupan khalifah atau mandataris ALLAH ‘AZZA WA JALLA di bumi ini, apakah kehidupan abad 21 dengan kehebatan ipteknya ini sudah abad 21 dengan kehebatan ipteknya ini sudah merupakan realisasi dari kekhalifahan merupakan realisasi dari kekhalifahan kita? kita?
Untuk menjawab status kekhalifahan kita, diperlukan acuan baku sebagai standar.
Untuk menjawab status kekhalifahan kita, diperlukan acuan baku sebagai standar. Kiranya tidak salah jika standar kita adalah Rasulullaah, Muhammad Kiranya tidak salah a ,ﷺ jika standar kita adalah Rasulullaah, Muhammad , atuatau
empat khalifah setelah beliau, yakni Abu Bakar, Umar biempat khalifah setelah beliau, yakni Abu Bakar, Umar bin Khoththob, Utsman bin n Khoththob, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Tholib, ‘alaihimussalaam. Tentu yang dibandingkan bukan Affan, dan Ali bin Abi Tholib, ‘alaihimussalaam. Tentu yang dibandingkan bukan wujudwujud–wujud fisik seperti alat transportasi, pakaian, gedungwujud fisik seperti alat transportasi, pakaian, gedung–gedung, jalan raya, alat gedung, jalan raya, alat telekomunikasi, dlsb. Melainkan penghayatan terhadap nilaitelekomunikasi, dlsb. Melainkan penghayatan terhadap nilai–nilai dunilai duniawi atau niawi atau ukhrowi, sesuai dengan kutipan ayatukhrowi, sesuai dengan kutipan ayat–ayat di atas. Maka cukup dengan sekilas ayat di atas. Maka cukup dengan sekilas renungan, kita bisa menyimpulkan bahwa kemajuan iptek abad 21 ini justru semakin renungan, kita bisa menyimpulkan bahwa kemajuan iptek abad 21 ini justru semakin menjauhkan lebih banyak manusia dari status kekhalifahannya dibandingkan yang menjauhkan lebih banyak manusia dari status kekhalifahannya dibandingkan yang semakin desemakin dekat.kat.
Sistem pendidikan adalah wadah ditanamkannya iptek sejak tingkat SD sampai
Sistem pendidikan adalah wadah ditanamkannya iptek sejak tingkat SD sampai perguruan tinggi. Tidak dapat diragukan lagi, sistem pendidikan yang sekuler, yang perguruan tinggi. Tidak dapat diragukan lagi, sistem pendidikan yang sekuler, yang menanamkan kebenaran ilmu hanyalah yang bersumber dari pengalaman panca menanamkan kebenaran ilmu hanyalah yang bersumber dari pengalaman panca indera manusia, dan indera manusia, dan mengabaikan kebenaran ilmu dari wahyu/firman Tuhan, yang mengabaikan kebenaran ilmu dari wahyu/firman Tuhan, yang bertanggungjawab atas hasilbertanggungjawab atas hasil–hasil di atas. Meskipun kurikulum menyediakan ruang hasil di atas. Meskipun kurikulum menyediakan ruang
bagi pendidikan agama, namun statusnya terpisah, dan tidak melebur dengan ilmu
bagi pendidikan agama, namun statusnya terpisah, dan tidak melebur dengan ilmu nonnon–agama, yakni iptek. Dalam bahasa Islagama, yakni iptek. Dalam bahasa Islam, ayatam, ayat–ayat qauliyah (firman Tuhan ayat qauliyah (firman Tuhan dalam kitab suci) diajarkan terpisah dan tidak terkait/tersambung/tersinkronisasi dalam kitab suci) diajarkan terpisah dan tidak terkait/tersambung/tersinkronisasi dengan ayatdengan ayat–ayat kauniyah (firman Tuhan dalam wujud alam fisik, alias iptek). ayat kauniyah (firman Tuhan dalam wujud alam fisik, alias iptek). Sedangkan AlSedangkan Al–Qur’an selalu menyambungkan kedua jenis ayat iQur’an selalu menyambungkan kedua jenis ayat ini menuju kerangka ni menuju kerangka hidup yang sesuai dengan hakikat penciptaan manusia itu sendiri, yakni menjadi hidup yang sesuai dengan hakikat penciptaan manusia itu sendiri, yakni menjadi hamba ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA dan khalifahNya di muka bumi.hamba ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA dan khalifahNya di muka bumi.
Di sinilah kita patut mengajukan proposal islamisasi iptek, demi
Di sinilah kita patut mengajukan proposal islamisasi iptek, demi meleburnya/sinkronnya/tersambumeleburnya/sinkronnya/tersambungnya ayatngnya ayat–ayat qauliyah dan kauniyah, sehingga ayat qauliyah dan kauniyah, sehingga hasil pendidikannya islamihasil pendidikannya islami(menghasilkan para ulil(menghasilkan para ulil–albaab)albaab), insyaallah. Tentu saja, insyaallah. Tentu saja pihak yang pihak yang sangat layak sangat layak mempmempertimbangertimbangkkanan proposal ini adalahproposal ini adalah lembagalembaga–lembaga lembaga pendidikan Islam, seperti Sekolah Dasar Islam Terpendidikan Islam, seperti Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT), SMPpadu (SDIT), SMP–IT, SMA/KIT, SMA/K–IT, IT, Islamic School, Pesantren, Universitas Islam, IAIN, dan lain sebagainya. Islamic School, Pesantren, Universitas Islam, IAIN, dan lain sebagainya.
Alhamdulillaah, penulis telah menyiapkan konsep strategi islamisasi iptek yang siap
Alhamdulillaah, penulis telah menyiapkan konsep strategi islamisasi iptek yang siap pakai, namun tentunya tidak cukup jika diuraikan di sini. Semoga kpakai, namun tentunya tidak cukup jika diuraikan di sini. Semoga kita semua, ita semua, khususnya yang beramal islami di dalam sistem pendidikan, baik tingkat SD maupun khususnya yang beramal islami di dalam sistem pendidikan, baik tingkat SD maupun sampai perguruan tinggi, bisa menyepakati akan pentingsampai perguruan tinggi, bisa menyepakati akan penting dan daruratdan daruratnya islamisasi nya islamisasi iptek ini, demi menyesuaikan dengan ayatiptek ini, demi menyesuaikan dengan ayat–ayat qauliyah yang menasihati kita sepertiayat qauliyah yang menasihati kita seperti yang dikutip di awal tulisan ini, Aamiin. WALLAAHU A’LAM BISHOWAB.yang dikutip di awal tulisan ini, Aamiin. WALLAAHU A’LAM BISHOWAB.
Bagi yang berminat menindaklanjuti proposal ini silahkan merujuk ke sini:
Bagi yang berminat menindaklanjuti proposal ini silahkan merujuk ke sini:
https://payhip.com/b/2Ng6W
https://payhip.com/b/2Ng6W atauatau
https://payhip.com/b/lsgYU
https://payhip.com/b/lsgYU
Banjarbaru,
Banjarbaru, 2222 SyaSyawalwal 14144444//12 Mei 202312 Mei 2023..
Reza Nasrullah
Reza Nasrullah

redaksi