12 Juli 2024
Penulis : Reza Nasrullah
arahbanua.com, BANJARBARU-

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Tahun 2023 ini kita kembali berlebaran dalam suasana yang berbeda dari segi tanggalnya.

Semua orang sudah maklum. Ini sudah berkali-kali terjadi hampir rutin setiap tahun. Sangat jarang ada tahun ketika tanggal lebaran menjadi satu bagi semua golongan/ormas/pemerintah/dan berbagai unsur keterbagian dan keterpecahan ummat Islam Indonesia lainnya.

Saking rutinnya, mungkin kita tidak perlu lagi membahasnya. Biarlah muncul sebentar perdebatan di ranah publik. Setelah beberapa hari, akan sirna dengan sendirinya. Semua hal di atas timbul tenggelam bersama dinamika kehidupan kita yang terus berhadapan dengan urusan perut, keluarga, kekuasaan/jabatan, kekayaan/kemiskinan, dan entah apalagi.

Sekarang apakah perlu kita merenungkan gejala perbedaan berlebaran ini dalam konteks kebangsaan Indonesia?

Kebangsaan Indonesia atau nasionalisme kita bagaimana kabarnya sekarang? sejak merdeka 78 tahun yang lalu apa yang sedang terjadi pada hari ini? Apakah bangsa kita sedang baik-baik saja? apakah saat ini bangsa kita sedang merana dijajah oleh oligarkhi? apakah sebagai bangsa kita aman sentosa dari segala ancaman bangsa-bangsa luar? apakah kita sedang menikmati merdeka dalam makna yang hakiki? apakah kita sedang merasakan kesejahteraan, kemakmuran, keadilan, kemajuan dan kejayaan? ya mungkin masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang bisa kita munculkan tentang kita sebagai bangsa Indonesia, yang mendiami tanah dan laut serta udara yang membentang dari Sabang (ujung barat) sampai Merauke (ujung timur). Betapa luas dan melimpahnya kekayaan alam yang kita ditakdirkanNya hidup dan mati di dalamnya, turun-temurun sejak tanggal kemerdekaan, Jum’at 17 Agustus 1945 yang bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364.

Mari kita perdalam lagi perspektif kebangsaan dengan mencoba memahami-menghayati-dan mengamalkan PANCASILA:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa:

Apakah bangsa kita mayoritas mutlak (70% – 100%) mengimani tauhid? ataukah sebaliknya, yang benar-benar bertauhid hanya 30% ke bawah? apakah ini adalah kemajuan atau kemunduran kita sebagai bangsa yang mendeklarasikan dirinya sebagai bangsa yang ber-ketuhanan Yang Maha Esa?;

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab:

Dalam usia bangsa hampir 78 tahun, apakah manusia para anggota bangsa semakin adil dan semakin beradab? ataukah mayoritas semakin zalim dan tidak beradab? misalnya para koruptor yang didukung segelintir oligarkhi yang menilep uang negara itu dan mengakibatkan ratusan juta rakyat tak berdosa jadi korban kezaliman dan ketidakberadaban mereka adalah kemajuan kebangsaan kita? bukankah mereka jadi pejabat negara hasil pilihan MAYORITAS rakyat juga?;

3. Persatuan Indonesia:

Apakah kita bersatu secara hakiki atau sebaliknya persatuan yang semakin ke sini semakin semu? bahaya laten perpecahan terus mengancam dan dipelihara mungkin sengaja mungkin tidak. Contoh kasus: perbedaan hari lebaran yang terus “dipertahankan” sebagai tradisi? dimaklumi tapi sangat mungkin menjadi bahaya laten perpecahan. Silahkan anda memikirkannya dengan kejernihan hati. Kita pikirkan demi kebaikan bangsa ke depan. Apa hakikat perbedaan ini dalam konteks perjuangan bangsa menuju cita-citanya yakni Persatuan Indonesia?;

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan:

Apakah para wakil rakyat kita semakin tua usia bangsa ini sedang semakin bijaksana demi kepentingan rakyat? ataukah semakin banyak wakil rakyat yang justru mengkhianati amanah jabatannya? tapi mereka duduk di parlemen kan karena pilihan mayoritas rakyat juga? apakah rakyat kita semakin cerdas memilih para pengkhianat atau rakyat kita semakin buta oleh politik uang. Para pejabat negara merasa tidak punya tanggungjawab ke rakyat pemilihnya karena mereka sudah membayar dengan uang/sembako/dan kebutuhan pokok lainnya ke pemilih. Akhirnya rakyat dipimpin oleh BUKAN hikmat kebijaksanaan melainkan dipimpin oleh PENGKHIANATAN dalam permusyawaratan perwakilan;

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia:

Apakah negara yang kita dirikan berhasil memberikan rasa keadilan sosial secara menyeluruh? atau hanya segelintir elit saja yang menikmati manisnya bernegara? Mari kita bertanya kepada rumput yang bergoyang, kalau kita sendiri tidak punya jawabannya. Lawan dari keadilan sosial adalah kezaliman sosial. Kezaliman sosial adalah bencana sosial yakni ketika manusia saling menzalimi satu sama lain, baik dalam tingkat perorangan maupun tingkat golongan/ormas/partai/lembaga swasta/lembaga pemerintahan/dan lain sebagainya.

Perbedaan hari lebaran adalah contoh kezaliman sosial pada tingkat ormas dan lembaga pemerintahan. Ketika ada sebuah ormas menetapkan secara mandiri dengan segala kapasitasnya tanggal lebaran adalah 21 April, lalu lembaga pemerintah membuat sidang itsbat untuk menghasilkan keputusan lebaran tanggal 22 April maka terjadilah dikotomi: sebagian bangsa yang ikut Muhammadiyah vs sebagian besar (mayoritas) bangsa yang ikut pemerintah. Seolah-olah Muhammadiyah tidak taat kepada pemerintah.

Coba SEANDAINYA pemerintah menetapkan kedua tanggal sebagai hari lebaran yakni tanggal 21 berlaku bagi yang meyakini ijtihad Muhammadiyah dan tanggal 22 bagi yang meyakini ijtihad hasil sidang itsbat, maka kedua bagian bangsa kita sama-sama ikut dan taat pemerintah. Tidak ada rasa perbedaan di tengah bangsa karena keduanya diakui dan dihormati oleh negara.

Demikian seterusnya bila selalu ditempuh dua cara dalam penentuan tanggal lebaran, maka hampir selalu terjadi dua hari/tanggal yang berbeda setiap tahun, maka pemerintah menerapkan kebijakan yang konsisten mengakui keduanya sebagai ketetapan pemerintah. Kalau ternyata ada tanggal ketiga atau keempat dan seterusnya yang berbeda, maka langkah yang bijaksana adalah pemerintah mengakui semuanya, ATAU membebaskan diri dari semuanya dan mempersilahkan rakyat menetapkan sendiri tanggal ibadahnya masing-masing dan pemerintah hanya menjamin keamanan, keselamatan, dan kedamaian semua pihak.

TAPI TETAP SAJA yang terbaik adalah ummat Islam Indonesia ini memutuskan kapan mau memulai BELAJAR UNTUK BERSATU. Sebab persatuan ummat Islam akan berdampak dahsyat bagi sila ketiga yakni Persatuan Indonesia.

Wallaahu a’lam.
Banjarbaru, 22 April 2023
Reza Nasrullah (salah satu akar rumput bangsa Indonesia)

 

redaksi