12 Juli 2024

Banjarmasin : Masih adakah Kedaulatan dan Marwah Urang Banjar? Sabtu, 1 April 2023 Waktu: 15.30 sampai 18.30 Wita (Buka Bersama) Ambin Batang, Banjarmasin

Pendahuluan

Siapakah Urang Banjar kekinian? Masih adakah Urang Banjar itu? Apa Urang
Banjar kalah berkompetisi dengan etnik lain? Mengapa merasa kalah dan terintimidasi dan apatis serta kada mau tahu lagi tentang dirinya atau alam sekitarnya, apalagi perubahan sosial dan politik yang berubah sangat cepat dan drastis.

Seorang Jurnalis menuliskan bahwa keberadaan sungai dan keberadaban Urang Banjar sebagai berikut : “Jauh sebelum periode Kesultanan Banjar, Rakyat Bumi
Lambung Mangkurat adalah Urang Bahari atau hidup dengan sungai dan laut, sangat paham pentingnya sungai sebagai urat nadi kehidupan. Teknologi membuat kanal multi fungsi, sebagai hasil olah karya Kebudayaan, membuktikan sebuah peradaban tinggi yang dimiliki Komunitas ini, terbentuk tidak jauh dari mediasi sungai. Eksistensi keberadaan rumah lanting dan pasar terapung, yang hingga kini masih bisa kita saksikan, hanyalah sedikit bagian yang tersisa dari kebudayaan itu.”

Apalagi saat ini pada abad ke-21, orientasi pembangunan yang seringkali tak lagi berpihak pada kelestarian budaya, lingkungan, bahkan manusianya, hingga mewariskan realita menyedihkan, membuat mereka menjauh dari identitas aslinya. Tak ayal, jika sejumlah
nama semisal Tatah, Handil, dan Saka yang sebenarnya mengandung arti berkenaan dengan fungsi dan luasan sebuah kanal pada masa lalu, kini tidak lebih dari sekedar simbol tanpa makna.

Fakta pada tahun 1520 ketika Kasultanan Banjar di tetapkan, tercatat seribu anak sungai di Banjarmasin. Saat ini tertinggal 200 buah saja yang masih ada airnya, sisanya membusuk jadi tempat sampah, jadi tempat hunian pinggir sungai dan yang paling parah tercemar polutan. Tak ada lagi kejayaan Pelabuhan terbesar di
Pulau Kalimantan.

Kalau urang Banjar sudah lupa Budaya Sungai apakah masih pantas di sebut Urang Banjar? Bahasa yang dipakai juga disebut lebih banyak melayu, bahkan Budaya Melayu lebih unggul mendominasi musik (bergambus) atau sekedar gaya berpakaian juga Melayu. Bagaimana Urang Banjar yang leluhurnya asli urang Dayak, selaku Penduduk Asli di Bumi Kalimantan Selatan atau sebutannya Banua ini. Sepertinya jauh tersingkir ke Pelosok Kampung, apalagi tanah-tanah pijakan mereka telah menjadi bancakan lahan
tambang dan kebun sawit. Miskin dan tertinggal.

Kegalauan makin terkuak. Sejak 2014, dengan politik demokrasi terbuka, makin
banyak Pemain dan Aktor atau para pihak yang terpilih lebih banyak orang luar Daerah. Seakan-akan Kalsel for sale. Bupati/ Walikota atau wakilnya lebih 70% pendatang. Anggota Dewannya juga demikian. Sektor usaha besar dikuasai pengusaha pendatang dari berbagai etnis seluruh Indonesia. Warga Banua cukup jadi pekerja, buruh dan usaha kelas UMKM saja. Banua sudah seperti Jakarta, padahal tidak pernah menjadi
Ibukota Negara Republik Indonesia. Budayanya diberangus, tanahnya diambil alih dan Urang Banjar cukup jadi pelengkap penderita. Pangkal muaranya adalah ada oligarki, pemilik modal besar, dan penguasa jaringan, baik vertikal (pusat/ internasional) dan horizontal (daerah dan para pihak) yang menguasai dan mencengkaram Banua.
Apalagi ditambah sikap Urang Banjar yang semakin tak peduli, makin apatis dan
hedonis dengan makin mengukur segala sesuatu dengan uang atau harta benda dan kemewahan. Sebuah sisindiran di masyarakat yang sangat diyakini dan diucapkan setiap saat : Mun kada jadi baras kada usah bauyuh-uyuh awak, apalagi pander wara.

Forum diskusi kontroversi perdana ini bapander wara, memperbincangkan Urang Banjar nang kamirawaan, artinya menunjukkan orang yang langlap terlalu bersenangsenang, banyak tertawa dengan limpahan harta dan kekuasaan atau over confident (terlalu percaya diri). Atau disebabkan kecewa yang berkepanjangan sebab beban kehidupan semakin berat. Urang Kamirawaan sebagai sebab makin tak peduli pada masalah sekitarnya. Forum ini membangun diskusi perdebatan terarah, namun tidak tergesa mencari titik temu, meski akan tetap merumuskan rekomendasi yang paling mustahil sekalipun, sebagai pijakan pemikiran dan tindakan yang akan menjadi keputusan bersama, untuk masa depan Banua.
Beberapa pertanyaan yang dilontarkan : Apa benar urang Banjar kamirawaan? Apa
buktinya? Apa masih ada Kedaulatan dan Marwah sebagai Urang Banjar.

Tujuan Forum Diskusi Kontroversi :

1. Diskusi kontroversi tidak lazim bagi warga Urang Banjar, untuk itu forum ini
hendaknya dapat memberikan sharing pengetahuan dan perspektif berbeda,
terhadap aspek kehidupan yang sangat berdampak.

2. Memaparkan kondisi Banua, agar Urang Dayak-Banjar agar dapat menemukenali
kembali jati diri dan perlagaan di Tanah Banua, hingga dapat menghasilkan
rekomendasi yang tepat dan dapat jadi rujukan.***

 

redaksi