21 Juli 2024


Penerjemah : Reza Nasrullah

arahbanua.com, BANJARBARU –

Ditulis oleh Shaheer Choudhury, diterjemahkan dari laman ISLAM21C.COM tayang pada 7 februari 2021.
Menurut berbagai laporan, seorang menteri pemerintah Turkiye telah menuduh AS mendalangi kudeta yang gagal pada 2016.
Menteri Dalam Negeri sekaligus wakil ketua Partai Keadilan dan Pembangunan(AKP), Suleyman Soylu, berdalih bahwa pada puncaknya AS lah yang bertanggungjawab terhadap peristiwa upaya kudeta pada 15 Juli 2016 yang telah menyasar presiden Recep Tayyip Erdogan dan berbagai lembaga pemerintahan.
“ini seterang siang hari bahwa AS di belakang peristiwa 15 Juli. Adalah FETO yang melaksanakannya atas perintah dari AS”.
Turkiye telah secara konsisten meyakini pendakwah Fethullah berada di balik upaya kudeta berdarah ini, dan mengklaim Gulen dan jaringannya-yang dirujuk sebagai “Fethullah Terrorist Organisation” (FETO)-telah dan sedang menyusupi berbagai bagian lembaga militer, kepolisian, dan kementerian-kementerian sensitif lainnya.
Kementerian Luar Negeri AS segera menanggapi tuduhan ini pada 4 Februari melalui juru bicaranya Ned Price:
” AS tidak terlibat sedikitpun pada upaya kudeta 2016 dan pada saat itu dengan segera mengutuk aksi tsb. Tuduhan terkini oleh pejabat senior Turkiye bahwa kami terlibat adalah salah sepenuhnya”.
” Narasi-narasi dan tuduhan tak berdasar lainnya tentang keterlibatan AS dalam peristiwa-peristiwa di Turkiye adalah tidak sejalan dengan status Turkiye sebagai sekutu NATO dan mitra strategis AS”.
Tetapi fakta yang tetap wujud adalah pernyataan-pernyataan Turkiye mengandung jejak-jejak yang patut diperhitungkan. James Jeffrey, seorang pensiunan diplomat senior AS dan pernah bertugas sebagai Duta Besar AS di Turkiye selama 2008-2010, mengatakan bahwa Gulen paling mungkin disalahkan atas kudeta yang gagal menjatuhkan presiden Erdogan dan partainya dari pemerintahan:
“Gerakan Gulen telah menyusupi paling tidak lembaga militer sejauh kesadaran saya. Mereka juga memang telah menyusupi sangat dalam sebelumnya ke dalam lembaga kepolisian dan penegakan hukum. Saya menyaksikan hal itu ketika saya di Turkiye sebelumnya, khususnya dalam kasus Sledgehammer, kasus Hakan Fidan, dan kasus-kasus korupsi pada tahun 2013. Sangat gamblang terlihat bahwa segmen penting birokrasi Turkiye telah disusupi dan para penyusup terikat setia kepada gerakan ini. Hal ini pasti tidak bisa ditolerir dan sangat berbahaya. Inilah yang tampaknya mengarah kepada upaya kudeta tsb.”
Fethullah Gulen, yang sebelumnya dikenal sebagai imam dan penulis, telah mukin di Pennsylvania AS sejak 1999. Sejak 1960an Gulen telah berhasil mengumpulkan jutaan pengikut dan milyaran dollar dana untuk mendukung gerakan “Hizmet” (artinya Pelayanan) nya.
Gerakan yg tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir-dan hakikatnya sekular-menyelenggarakan/mengelola banyak sekolah di seluruh Turkiye dan negara-negara lain. Selama pemerintahan militer pada 1980an, para pemimpin militer yang memerintah meyakini Gulen terlibat upaya menggulingkan para pelaku penggulingan (yakni para pemimpin militer itu sendiri, yg sebelumnya sering mengkudeta pemerintahan sipil).
Sedangkan sebaliknya, Presiden Erdogan secara konsisten membangun politik Islam.
Turkiye telah menuntut ekstradisi Gulen selama bertahun-tahun, namun AS selalu menolak dengan alasan tidak cukup bukti untuk membenarkan ekstradisi. Hanya 4 hari sesudah kudeta yang gagal, sebuah permintaan resmi diajukan ke Pemerintah Federal AS, namun sampai sekarang AS tetap menolak mengekstradisi Gulen.
Berbicara pada tanggal 19 Juli 2016, saat itu Perdana Menteri Binali Yildirim mengatakan:
“Jangan lindungi sang pengkhianat itu lebih lama lagi. Tidak ada gunanya lagi bagi anda, dan juga setiap kudeta, tanpa kecuali, adalah buruk dan berdarah. Namun tidak ada upaya-upaya kudeta dalam sejarah politik kami sekejam dan sejahat kudeta 15 Juli ini. Tidak ada kudeta yang dituntun oleh seorang pengkhianat yg menampilkan diri sebagai ulama…tidak ada kudeta sebelumnya yang membombardir Parlemen Turkiye”.
Ketika menambahkan komentar Yildirim di atas, mantan dubes Jeffrey juga mengirim peringatan kepada pemerintah AS dalam sebuah wawancara dengan harian Hurriyet:
” Tuduhan di pengadilan bagi para dalang kudeta di dalam sistem Amerika adalah tuduhan pembunuhan”.
“Jika anda mengambil nyawa orang lain ketika melakukan sebuah kejahatan-bahkan meskipun tidak diniatkan pada awalnya-maka itu merupakan tingkat pembunuhan yang paling serius karena pengambilan nyawa itu dilakukan secara sadar baik demi mendukung terlaksananya kegiatan kejahatan lain atau demi melindungi para pelaku kejahatan tsb. Dengan demikian jika seseorang bisa membuktikan bahwa seseorang lain dengan sadar tahu dia sedang melakukan tindak kejahatan di bawah hukum negara, dan bahwa ada orang lain mati sebagai akibat tindak kejahatan itu, atau mati akibat sebatas berada di lokasi, maka tuduhannya adalah pembunuhan”.
” Gulen adalah pemimpin sebuah organisasi yang telah berupaya menyusupi lembaga-lembaga negara secara illegal demi mencapai tujuan-tujuan yang bertentangan dengan hukum negara Turkiye dan melanggar sumpah jabatan. Jika saja bisa dibuktikan bahwa para pemimpin organisasi ini telah memerintahkan kudeta, maka sebagaimana faktanya para pelaku kudeta menumpahkan darah para warga sipil, maka tuduhan pembunuhan layak diarahkan kepada para otak di belakang kudeta ini”.
Penerjemah: Reza Nasrullah.

redaksi