
DR.H.M.Suaidi,M.Ag.
Secara bahasa, Buraq berasal dari kata barqun, atau kilat. Seperti yang terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 20 :
يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ
Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka.
Ungkapan kilat menyambar penglihatan mereka’, maksudnya karena sangat amat terangnya cahaya kilat itu sehingga membuat orang yang melihatnya sampai kehilangan daya penglihatan seperti orang buta yang tidak bisa melihat objek.
Penamaan seperti ini mungkin karena kecepatannya ketika digunakan oleh Nabi saat peristiwa Isra’ dan Mi’raj, dimana perjalanan Isra dan Mi’raj hanya terjadi satu malam. Buraq adalah sesosok hewan seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits :
عن أنس أن النبي أتي بالبراق ليلة أسري به ملجما مسرجا فاستصعب عليه فقال له جبريل أبمحمد تفعل هذا فما ركبك أكرم على الله منه قال فارفض عرقا
Diceritakan dari sahabat Anas bahwa Rasulullah didatangi (Jibril) bersama Buraq di malam Isra Miraj dalam keadaan telah diberi tali kendali, diberikan wadah lampu kemudian Buraq enggan (ditunggangi). Maka Jibril mengatakan, ‘Apakah kepada Nabi Muhammad, engkau melakukan hal demikian (enggan ditunggangi), lantas siapakah sosok yang lebih mulia di sisi Allah darinya (Muhammad) yang telah menunggangimu? (HR Bazzar).
Dalil yang lain.
قال رسول الله أتيت بالبراق وهو دابة أبيض طويل فوق الحمار ودون البغل يضع حافره عند منتهى طرفه
Rasulullah bersabda, ‘Aku didatangi (Jibril) bersama Buraq, ia adalah hewan tunggangan yang berwarna putih, (ukurannya) lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bighal (keledai), ia menaruh kukunya di ujung (tempat) yang ia lihat,’ (HR Muslim).
قال رسول الله لما انتهينا إلى بيت المقدس قال جبريل بإصبعه فخرق به الحجر وشد به البراق
Rasulullah bersabda, ‘Ketika kami telah sampai di Baitul Maqdis, Jibril menunjuk dengan tangannya, maka terbakarlah sebuah batu dan ia mengikat Buraq dengannya, (HR Turmudzi).
Hikmah
Selain apa yang terdapat dalam hadits-hadits sahih, cukup banyak ditemukan keterangan di beberapa kitab turas yang menggambarkan dan mendefinisikan Buraq dengan berbagai bentuk dan jenisnya. Sebagian mungkin mengimajinasikannya dengan Pegasus, kuda bersayap dalam mitologi Yunani, dan sebagian menggambarkannya dengan sedikit berlebihan.
Sebagai seorang muslim, tentu tidak layak untuk terlalu jauh memperdalam definisi hewan ini karena memang bukan termasuk dalam ranah rasional. Di sisi lain, banyak hal dalam agama Islam yang lebih perlu dipelajari, untuk kemudian dipraktikkan. Apalagi memperdebatkan masalah Buraq ini hingga berlarut-larut.
Penjelasan ini bertumpu pada analisa matan hadits dan bahasa Arab untuk kemudian mendapat penjelasan secara umum bagaimana Nabi Muhammad menjalani Isra’ dan Mi’raj dalam waktu semalam, yaitu dengan menaiki kendaraan super-cepat bernama Buraq.
Hikmah bagi seorang muslim adalah pentingnya memanfaatkan waktu, karena selain shalat dilakukan pada lima waktu dalam sehari, butuh kedisiplinan untuk melakukannya tepat waktu. Sehingga muslim yang taat bukanlah taat pada ibadah semata, melainkan juga memiliki energi disiplin yang positif dalam beraktivitas selain ibadah.
Seorang muslim juga perlu bergegas dalam melaksanakan shalat semampunya. Selain karena shalat di awal waktu memiliki beberapa keutamaan, bagaimana Allah mewahyukan shalat kepada Nabi juga penuh akan makna kedisiplinan, bagaimana perintah Shalat itu diwahyukan dengan mengangkat Nabi ke atas langit ketujuh dan dengan menaiki kendaraan super-cepat bernama Buraq.
والله اعلم
*aw/ pjmi/ ab/ nf/ 260125
KOMENTAR TERBARU