20 Juli 2024

ARAHBANUA.COM

 

Oleh: Noorhalis Majid  
Ambin Demokrasi  |  

Bagaimana kalau semua calon peserta Pilkada meminta restu kepada oligarki, mungkinkah semua direstui, semua difasilitasi?

Jawabnya tentu sangat mungkin. Apalagi, bisa jadi itulah yang dikehendaki. Sehingga siapa pun yang menang, semuanya berada di bawah ketiak oligarki – yang tunduk dan patuh pada keinginannya.

Mengapa asumsinya demikian, karena Kebudayaan Banjar mengajarkan fenomena itu. Bukannya ada yang suka “membanjur”, memasang umpan di banyak tempat, sehingga peluang dan kesempatan mendapatkan perolehan akan lebih besar. Kalau hanya memasang umpan pada satu titik, peluangnya hanya satu bagiannya, bagian lainnya bukan menjadi peluang.

Kebudayaan Banjar juga mengenalkan istilah “kacak darau”, yang berarti menang banyak, karena berani berspekulasi bertarung pada semua celah peluang yang tersedia.

Jadi, mana kala semuanya meminta restu pada oligarki, dan yang bersangkutan merestui, mendukung, memfasilitasi semuanya. Hadir serta pada semua potensi peluang, maka yang berpeluang menang bukanlah rakyat, tapi oligarki yang bersangkutan.

Kalau kondisinya demikian, pada akhirnya Pilkada tidak mengubah permainannya. Layaknya main game, yang para pesertanya satu sama lain “bermain mata”, di bawah skenario dalang yang mampu menarik ulur permainan agar tetap menyenangkan.

Begitulah hebatnya oligarki, membeli semua kemerdekaan warga, hingga tidak punya daya tawar lagi menentukan pemimpinnya. Terikut permainan yang sudah diciptakan, meligitimasi realita semu, karena semua sudah memenuhi prosedur formil yang sekedarnya.

Bila tidak ada alternatif calon yang benar-benar menawarkan “alternatif”, maka murahan dan seapik apapun penyelenggaraan Pilkada. Sebagus dan seketat apapun pengawasan, sudah tidak penting – sudah tidak perlu. Pemenangnya tetaplah sang oligarki yang orientasinya hanya untuk kesejahtraan diri dan kelompoknya, bukan untuk membangun kesejahtraan bersama.

Pertanyaan paling mendasar, dimanakah para cerdik pandai? apakah ikut persetujuan, manut dan patuh pada skenario? (nm)

redaksi