20 Juli 2024

ARAHBANUA.com

Penulis Ratman Aspari

 

Om Bronto‘, demikian biasa rekan dan sejawatnya di komunitas radio komunikasi kebencanaan menyapanya.

Di rumahnya yang asri, di bilangan Potorono, Wonosari, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Om Bronto menikmati kesehariannya ditemani lagu lagu nostalgia yang menghanyutkan.

Tampak, pemancar radio komunikasi, yang menjulang didepan rumahnya, berbagai peralatan untuk melakukan respon kebencanaan tersimpan rapi di gudang rumahnya yang nyaman.

 

 

 

Namun diakui Om Bronto’, untuk radio komunikasinya saat ini sedang ada masalah, gangguan teknis, akibat pemancarnya tersambar petir, akibatnya suara Om Bronto’, jarang terdengar lagi. Dalam proses perbaikan, semoga cepat bisa mengudara lagi, katanya.

Bagi penggiat kebencanaan, khusunya komunitas radio komunikasi kebencanaan, nama ‘Om Bronto’ sudah tidak asing lagi, termasuk dilingkungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

 

 

Pada saat roll call, absensi via radio, yang rutin di-lakukan tim radio BNPB, setiap pagi dan sore, suara Om Bronto, akan selalu terdengar dengan nyaring, melaporkan perkembangan kondisi terkini di sekitar wilayahnya dan pantuan Gunung Merapi.

Selain itu, Om Bronto’ sendiri dilingkungan relawan dan penggiat kemanusiaan, saat erupsi Merapi (2010), sudah tidak asing lagi.

Bersama rekan-rekanya, saat itu ‘Om Bronto’ ikut terlibat dalam menginisiasi berdirinya komunitas, ‘Balai Rantai‘, sebagai wadah bagi para penyintas yang bergiat dalam penanganan erupsi Merapi.

‘Balai Rantai’ dapat dikatakan sebagai cikal bakalnya komunitas yang fokus pada pemantauan dan penanganan erupsi Gunung Merapi.

Nama ‘Balai Rantai’ sendiri karena nama desa dan kelurahannya, Balai Rantai’, dengan frekeunsi 907, sehingga dinamakan, ‘Balai Rantai’ 907′.

Jaringan komunitas Balai Rantai’ ini terus berkembang, dan beberapa relawannya mengembangkan komunitas serupa dari berbagai sisi, arah Gunung Merapi.

Dan sampai saat ini sudah muncul dan berkembang komunitas yang ada disekitar Gunung Merapi ini, seperti, ‘Jalin Merapi’, Lintas Merapi, dll.

Apa yang dilakukan jaringan teman teman relawan di Merapi ini melalui ‘Balai Rantai’, menjadi role model untuk penanganan erupsi gunung berapi di daerah lain.

Almarhum, Pak Wisnu Widaja, saat penanganan erupsi Gunung Agung, di Pulau Bali, mengadopsi apa yang dilakukan kawan kawan Balai Rantai di Merapi ini.

Pak Wisnu, demikian sapaan akrab beliau, yang saat itu menjabat sebagai Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, memberi nama komunitas ‘Paserbaya’, untuk upaya kawan kawan komunitas relawan di Gunung Agung, saat itu.

Paserbaya, merupakan komunitas untuk menginfokan perkembangan dan aktifitas erupsi Gunung Agung, di Pulau Bali.

Banyak pembelajaran dari lapangan yang bisa diambil saat penanganan erupsi Merapi (2010), dimana ‘Om Bronto’ ikut terlibat didalamnya.

Kini ditengah, usianya yang sudah tidak lagi muda, Om Bronto masih terus bersemangat dalam kegiatan, upaya – upaya penanggulangan bencana dan kemanusiaan.

Pada prinsipnya dalam melakukan kegiatan-kegiatan tersebut, Om Bronto, lebih berdasarkan niat ikhlas dan panggilan jiwa semata, tanpa pamrih apapun.

Ilmu dan pengalaman, Om Bronto yang sudah malang melintas dalam kegiatan-kegiatan kebencanaan dan kemanusiaan, serta komunikasi radio, selalu ia bagikan kepada para generasi muda agar lebih peduli pada lingkungan dan kemanusiaan.

Sosok, Om Bronto yang sederhana, apa adanya dan selalu senang menolong siapa saja, bertukar pikiran dan berbagai pengalaman dengan yang lebih muda, menjadi ispirasi banyak orang.

Prinsip hidupnya sendiri, sangat sederhana, bagaimana dirinya bisa menjadi manfaat bagi banyak orang dan senang berbagi serta menolong kepada sesama.

Wonosari, 12 Desember 2023

 

 

 

redaksi