25 Juli 2024
Penulis: REZA NASRULLAH
arahbanua.com, BANJARBARU-

 

Setiap komunitas atau masyarakat dimanapun dan kapanpun memiliki gejala yang serupa/mirip/hampir sama dalam hal selalu adanya dua unsur dalam struktur kehidupan sosial politiknya. Dua unsur tersebut adalah unsur elit yang terdiri atas segelintir individu yang dianggap memiliki “kualitas” kepemimpinan oleh unsur lainnya. “Kualitas” ini terjadi bisa karena individu tersebut aktif dalam urusan-urusan orang banyak, bisa karena ia keturunan ningrat/bangsawan/pemimpin/elit sebelumnya, hasil pendekatan/menjilat kepada atasannya, kualitas intelektualnya atau berbagai sebab lainnya. Sedangkan unsur pasangannya adalah kaum massa, yang menjadi obyek dari perilaku para elitnya. Massa disini adalah siapa saja yang bukan termasuk para elit dan jumlahnya selalu lebih banyak (mayoritas) dibanding elit. Mereka tidak memiliki sifat-sifat elit di atas sehingga tergabung menjadi massa.

 

Al-Qur’an menyebut istilah elit dengan kata-kata: al-mala’u (pemuka suatu kaum), atau kubaro (para pembesar), atau orang-orang yang diikuti, atau orang-orang sombong (mustakbirin). Sedangkan massa disebut dengan kata: para pengikut atau lawan dari mustakbirin yaitu mustadh’afiin (kaum yg lemah).

 

Dalam proses kehidupan sosialnya, setiap komunitas/masyarakat selalu memiliki mekanisme tersendiri untuk memproduksi para elit dari basis massa. Artinya didalam massa selalu muncul bibit-bibit elit yang kemudian betul-betul menjadi elit untuk meneruskan kepemimpinan elit atas masyarakat tersebut. Sebab para elit sebelumnya pasti menjadi tua dan mati atau tewas dalam peperangan atau berbagai sebab lainnya.

 

Allah SWT menegaskan bagaimana kehendakNya pasti terjadi atas manusia dalam kehidupan sosial-politik suatu masyarakat/komunitas, apakah dalam lingkup suatu bangsa/nasional, suatu propinsi, kabupaten/kota atau bahkan dalam lingkup internasional.

 

KehendakNya itu Dia nyatakan dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 26 sebagai berikut:  Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

 

Berdasarkan ayat diatas maka setiap manusia tergolong menjadi empat golongan dengan mengacu kepada dua dimensi, yakni dimensi hablumminallah (hubungan dengan Allah) yang merupakan dimensi vertikal, dan dimensi horizontal berupa hablumminannaas (hubungan dengan sesama manusia).

 

Golongan I : Hablumminallahnya: dimuliakan oleh Allah SWT. Hablumminannaasnya: diberi kerajaan atau kekuasaan atau jabatan atau tergolong ke dalam para elit dari masyarakat/komunitasnya. Golongan ini merupakan manusia ideal dan dambaan bagi massa yang akan mampu membawa seluruh anggota masyarakatnya (elit+massa) kepada kesejahteraan lahir-bathin, dunia-akhirat. Contoh nyatanya adalah para nabi dan rasul serta para pewaris hasil pembinaan para nabi dan rasul itu, serta tokoh-tokoh pemimpin masa sesudahnya yang benar-benar sepenuh hati mengadopsi pelajaran-pelajaran kepemimpinan para nabi dan rasul. Mereka mendapat status kemuliaan di sisi Allah SWT selagi hidup di dunia ini karena dua hal: Cara mencapai kekuasaannya adalah sesuai dengan ajaran Allah SWT dan menjalankan amanah kepemimpinannya dengan ikhlash dan sebaik-baiknya, betul-betul demi rakyatnya. Baginya amanah itu harus dijalankan secara adil, transparan, dan bertanggungjawab baik kepada Allah SWT maupun kepada rakyat itu sendiri. Bagi dia, rakyat harus dididik sedemikian rupa agar pandai mengontrol dirinya yang dengan kontrol itu dia berharap selamat di hadapan Allah SWT ketika mempertanggungjawabkan amanahnya kepada Allah SWT. Dia tidak mungkin mau membiarkan rakyatnya bodoh sehingga mudah ditipu olehnya.

 

Golongan II: Hablumminallahnya : dihinakan oleh Allah SWT dalam kehidupan di dunia, terlebih lagi nanti di akhirat, meskipun di hadapan manusia dirinya bisa jadi sangat disanjung dan dipuja saking terhormat dan mulianya. Sedangkan hablumminannaasnya dia diberi kerajaan atau kekuasaan atau jabatan atau tergolong elit. Bila seseorang menggapai jabatan dengan cara-cara yang curang, penuh tipu-daya, sikut kiri-kanan, main fitnah lawan/pesaing politiknya, menyuap para pemilih dengan “uang politik”, dan berbagai cara kotor lainnya, dapat dipastikan dia tidak akan menjalankan amanah jabatannya dengan sebaik-baiknya demi rakyatnya. Maka dengan dua alasan yang berlawanan dengan ciri golongan I inilah dia berhak mendapat kehinaan dari Allah SWT. Jika dia tidak taubat sebelum mati, pengadilan akhirat sudah pasti memvonisnya dengan kehinaan  lebih dahsyat lagi  tidak terbayangkan sebelumnya oleh siapapun. Bagi orang seperti ini, kebodohan rakyat, khususnya dalam hal kesadaran politik adalah sesuatu yang harus dilestarikan agar bisa dia tipu terus menerus, lalu dia bertindak menurutkan hawa nafsunya saja menikmati penghormatan orang, fasilitas negara, uang rakyat selalu dikorupsi, kalau perlu sampai tujuh turunan baru habis. Dia selalu tampil di depan massa dengan kepura-puraan seolah dialah pemimpin yangg paling mencintai rakyat, dan rakyatnya hanya manggut-manggut dan terpesona karena kebodohannya. Apalagi ketika rakyat diberi uang, sumbangan, fasilitas ala kadarnya, maka merekapun memuji sang pejabat ini, padahal hak rakyat dimakan oleh pejabat ini jauh lebih banyak daripada yang sewajarnya dia terima.

 

Golongan III: Hablumminallahnya : dimuliakan oleh Allah SWT. Sedangkan hablumminannaasnya : tidak diberi kerajaan atau kekuasaan atau jabatan atau tidak masuk kelas para elit. Dia hanyalah orang kebanyakan atau massa saja. namun dia mulia di sisi Allah SWT karena menjalani hidupnya dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Dia jujur, selalu berbuat baik kepada siapa saja, suka menolong orang lain, tidak pernah berpikir mencelakai orang lain. Dia menjalani hidupnya dengan meneladani Rasulullah, Muhammad SAW. Maka dia sangat mulia di sisi Allah SWT dalam kehidupan di dunia ini terlebih lagi di akhirat nanti. Boleh jadi dia dipandang hina oleh manusia, meskipun dia jujur dan akhlaknya baik, sebab dia tidak bisa diajak korupsi oleh lingkungan di mana korupsi sudah menjadi budaya. Namun dia tetap tegar karena sandaran hidupnya adalah Allah SWT Maha Mulia dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu, sehingga segala gangguan manusia sangat kecil baginya. Dialah rakyat yang ideal, yang memiliki kesadaran politik tinggi karena berilmu, yang dengan bekal itu dia bisa memisahkan mana elit layak didukung dan mana yang wajib diabaikan dan dijauhi dan kalau perlu diturunkan dari posisinya. Dia pasti hanya mendukung elit golongan I dan menolak dengan tegas elit golongan II. Meskipun elit golongan II tampil dengan “kemasan” memukau, dia tidak akan bisa ditipu.

 

Golongan IV: Hablumminallahnya: dihinakan oleh Allah SWT. sedangkan hablumminannaasnya: tidak diberi kerajaan atau kekuasaan atau jabatan atau tidak masuk ke dalam kalangan elit. Dia adalah rakyat biasa, namun kehidupannya diselimuti kehinaan di dunia dan kalau tidak taubat sebelum matinya akan lebih hina lagi nanti di akhirat. Merekalah orang-orang yang tidak mau beragama (baca: berislam) dengan sebaik-baiknya sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW. Mereka menyukai maksiat, menyukai para elit golongan II yang “membimbing” mereka kepada kehidupan yg fatamorgana, yang melenakan dan membuai sehingga mudah diombang-ambingkan ke sana ke mari. Hidup mereka dipenuhi kemiskinan, kebodohan, namun kesenangan syahwat berupa hiburan siang dan malam. Mereka tidak mau tahu bagaimana memilih elit pemimpin yg benar, karena yang penting buat mereka adalah bisa makan, bisa minum, bisa melampiaskan nafsu seksnya, bisa gembira, bisa berpakaian, bisa berteduh di rumah, meskipun seadanya, meskipun para elit mengkorupsi hak-hak mereka. Mereka tidak akan peduli, selama semua kebutuhan hidup terpenuhi dengan harga terjangkau. Mereka baru marah kalau semua harga sudah mencekik leher. Namun solusi politiknya akan kembali berputar di sekitar perebutan kebutuhan perut, seks, dan harta dan jabatan, tidak pernah menjangkau tinggi kepada kebutuhan terhadap ridho Allah SWT.

 

Pemilu 2024 sebentar lagi akan digelar di negeri kita, Indonesia tercinta. Kehidupan politik sejak merdeka dari penjajahan Belanda dan Jepang pada 1945 sampai sekarang, tampaknya belum pernah memposisikan elit golongan I dan massa golongan III. Paling-paling yang selalu tampil sepanjang 77+ tahun kemerdekaan kita adalah elit golongan II, massa golongan IV yang mayoritas dan massa golongan III yang minoritas. Teori ini menawarkan solusi: Satu-satunya cara agar Indonesia mampu mencapai cita-cita kemerdekaannya adalah membangun massa golongan III yang mayoritas dan memilih elit golongan I. Tinggal masalahnya adalah: Adakah partai politik yg mau dan mampu berjuang ke arah ini? Apakah partai-partai Islam mau bersinergi untuk mewujudkan solusi ini ataukah mereka memilih jalan sendiri-sendiri yang pada akhirnya sama-sama terjatuh ke dalam elit golongan II dan massa golongan IV, sedangkan golongan III tetap saja minoritas. Karena tanpa sinergi, rasionalitas saya mengatakan mustahil membangun massa golongan III menjadi mayoritas lalu massa ini memilih elit golongan I.

 

Satu hal perlu dicatat: setiap dimensi kehinaan dan kemuliaan di hadapan Allah SWT memiliki kadar tertentu, bisa rendah, sedang dan tinggi. Demikian pula pada dimensi kekuasaan dan ketidakkuasaan, ada yang kekuasaannya rendah, sedang, dan tinggi.

 

Wallahu a’lam bishowab.

Cimahi, 6 Sya’ban 1423/13 Oktober 2002 (edisi revisi)

redaksi