25 Juli 2024
Penulis: Reza Nasrullah
arahbanua.com, BANJARBARU –

 

Kata partai dalam bahasa Indonesia lazimnya sudah mengandung konotasi politik. Tidak pernah ada partai dalam sejarah kita yg tidak bergerak dalam dunia politik. Meskipun demikian sering masih diperlukan penegasan dengan sebutan partai politik (parpol). Logika umum telah mengatakan bahwa parpol didirikan dengan motif dasar ikut pemilu. Jika tidak berniat ikut pemilu maka percuma mendirikan suatu parpol. Lebih baik tidak berparpol kalau tidak bisa menembus persyaratan ikut pemilu. Jadi harap maklum kalau setiap parpol khususnya yg tergolong baru di era “REPOT NASI” DAN “DEMOCRAZY” sekarang ini tampak sangat bersemangat mengonsolidasi diri agar memenuhi persyaratan ikut pemilu. Semua gejala dan perilaku ini sudah bisa disimpulkan sebagai:  hakikat partai atau partai politik.

 

Hakikat pemilu bagi suatu parpol adalah meraih dukungan suara rakyat pemilih sebanyak-banyaknya, apapun caranya, yg penting kuantitas pemilih sebisa mungkin melebihi parpol pesaing. Tanpa berusaha keras dan sungguh-sungguh (mungkin bisa disetarakan dengan: jihad) meraih dukungan dan simpati ini lebih tepat tidak ikut pemilu dan tidak ikut ya berarti tidak usah berpartai.

 

Usai pemilu kita bisa menyaksikan kenyataan kehidupan social politik yg dimainkan oleh para peserta pemilu, khususnya yg berhasil menembus batas minimal perolehan suara sehingga mendudukkan para kadernya di lembaga legislatif dan eksekutif. Sebuah ironi bagaimana kehidupan kita sebagai bangsa selama 77+tahun sejak kemerdekaan tidak beranjak dari posisi marginal di pentas dunia meskipun telah berkali-kali pergantian parpol yg berkuasa.

 

Saya selalu memperhatikan satu saja dari sekian banyak aspek kehidupan social politik kita selama ini, yakni penyakit kronis dan akut yg bernama: Korupsi-Kolusi-Nepotisme (KKN) yg telah membudaya sejak 53an tahun terakhir (1970-2023). Bagaimana hampir tidak ada satu pihak pun yg benar-benar suci bersih sehingga berhak dan berwenang menghakimi semua pihak lainnya yg melakukan KKN. Ini terjadi karena penyakit budaya ini telah menjalar ke semua lapisan mulai dari presiden, ketua MPR/DPR sampai rakyat jelata di pelosok. Apa yg selalu menjadi daya tarik suatu parpol dalam kampanye yakni janji memberantas KKN nyatanya selalu berakhir sebatas retorika kosong dan hampa serta kebohongan dan kemunafikan karena tidak tahan menghadapi godaan KKN di depan mata begitu duduk di kursi kekuasaan. Semua ini kemudian berjalin berkelindan dengan politik pihak asing yg berkepentingan untuk melemahkan secara lestari posisi bangsa dan Negara Indonesia tercinta ini. Korupsi pejabat negara triliunan rupiah, pelanggaran HAM kasus KM50 anggota FPI yg dibunuh di luar hukum, kasus Ferdy Sambo, banjirnya buruh China di tengah pengangguran bangsa sendiri dan banyaknya rakyat yg terpaksa cari kerja di luar negeri, impor ugal-ugalan, hutang BUMN yg membangkrutkan, hutang luar negeri yg mencapai rekor Rp 7000 triliun, kemiskinan, pengangguran, biaya pendidikan yg tidak terjangkau, inflasi dan banyak lagi masalah besar lainnya ikut melengkapi rumitnya masalah yg sudah super rumit seperti KKN di atas.

 

Sebagai seorang muslim, saya sangat prihatin dengan sikon kita ini karena mayoritas manusia Indonesia adalah muslim. Mengapa kemusliman mayoritas tidak punya pengaruh apapun terhadap kebaikan dan keberkahan hidup bangsa kita? malah tidak bisa dipungkiri bahwa pelaku banyak masalah otomatis berlabel muslim karena kuantitasnya memang mayoritas. Apanya yg salah?

 

Setelah menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an saya bersyukur karena merasa menemukan jawabannya. Surat Al-A’raf ayat  11-30 merupakan sumber inspirasi digagasnya teori Partai Da’wah ini yg merupakan saran solusi komprehensif dan sistematis serta total bagi semua kemelut di atas.

 

Sejak manusia pertama bernama Adam diciptakan oleh Allah swt maka terjadilah takdirNya berupa berdirinya dua partai : Partai Manusia dan Partai Iblis. Sebagai partai politik di pentas “pemilu” berupa kehidupan dunia, dengan disaksikan oleh “KPU” yg Maha Adil yakni Allah SWT, kedua partai ini sejak itu terus bersaing memperebutkan pengikut dari mulai kader fanatic sampai simpatisan dan yg sekedar ikut-ikutan tanpa sadar hakikat yg diikutinya. Kedua partai sama-sama ber”jihad” sesuai maknanya bagi masing-masing. Setiap detik keduanya berkampanye kepada seluruh ummat manusia dengan segala cara. Kepentingan abadi kedua partai saling bertentangan: satu mengajak kepada masuk neraka yg penuh penderitaan dan ketersiksaan sepanjang waktu, sedangkan satunya lagi mengajak kepada masuk surga  yg penuh kenyamanan dan kebahagiaan sepanjang waktu. “Pemilu” ini hanya akan berakhir manakala kiamat tiba, setelah itu perolehan suara dihitung di akhirat.

 

Ada satu ciri yg sangat unik dalam persaingan kedua partai ini. Partai Iblis sebagai pengusung kepentingan masuk neraka, selalu menggunakan cara tipu-daya: berpura-pura mengajak manusia kepada kebaikan lalu menggiring kepada kesesatan. Sedangkan Partai Manusia tidak mungkin berpura-pura sesat dan jahat kepada pengikut Partai Iblis agar berpindah dan digiring kepada kebaikan dan kebenaran. Partai Manusia selalu jujur dan berterusterang bahwa mereka mengajak setiap orang kepada kebaikan dan kebenaran. Sedangkan Partai Iblis selalu berpura-pura mengajak kepada kebaikan dan kebenaran padahal setelah itu sedikit demi sedikit digiring kepada kesesatan dan kejahatan tanpa terasa, bahkan saking hebatnya tipuan ini, banyak sekali manusia yg yakin berada dalam kebenaran dan kebaikan padahal ia sudah terperangkap dalam Partai Iblis ini.

 

Sekularisme, Materialisme, kemusyrikan, penghalalan segala cara, budaya hedonisme, liberalisme, kapitalisme, marxisme, sosialisme, dan seabreg isme-isme buatan pikiran manusia telah berhasil ditanamkan lewat kemasan menarik berupa “kebenaran dan kebaikan” palsu oleh presiden Partai Iblis ke seluruh ummat manusia khususnya mayoritas bangsa Indonesia dalam kurun waktu yg panjang dan bertahap pelan namun pasti, bahkan ia bisa berdampingan dengan aqidah Islam dalam hati setiap muslim. Maka lahirlah segala macam perilaku dan budaya KKN, anarkhis, hedonis, egois, dsb yg menjelma menjadi penyakit social politik dalam pentas kebangsaan kita sejak 77+ tahun kemerdekaan. Sedangkan Partai Manusia selalu kalah dalam menarik jumlah dan kualitas pengikut sehingga posisi mereka selalu terpinggirkan dan bahkan sering dijadikan tertuduh dalam berbagai kasus. Maka wajar sekali kalau keadaan kita begitu parah carut-marutnya seperti sekarang ini, terlebih kita tidak pernah mau berpaling kepada Al-Qur’an untuk mengobati semua penyakit sosial kita. Padahal sebagai pencipta manusia tidak mungkin pengarang Al-Qur’an salah memberi resep. Namun begitulah kesuksesan Partai Iblis menyesatkan kita, seolah-olah kita sudah islami, sudah haji dan atau umroh berapa kali, selalu sholat, selalu melafalkan dua kalimah syahadat, selalu puasa, selalu berzakat, menutup aurat, namun tanpa risih kita campursari semua itu dengan KKN, kemusyrikan, hedonistis, dan berbagai “kepintaran otak kemanusiaan” kita lainnya.

 

Akibatnya sulit sekali mempercayai suatu partai yg bersumpah sekalipun atas nama Allah swt akan menumpas habis KKN di negeri ini akan benar-benar memenuhi janjinya nanti ketika kita beri suara kalau tanpa disadari oleh partai ybs  bahwa sebenarnya ia telah disahkan sebagai simpatisan bahkan kader oleh Partai Iblis. Tentu saja sulit menyadari kesesatan diri karena sang Presiden Partai Iblis ini adalah Iblis sendiri yg tidak kasat mata bagi manusia, sedangkan manusia sangat mudah dilihatnya. Kecuali manusia mau mengikuti petunjuk pencipta dirinya dalam Al-Qur’an barulah akan bisa selamat dari tipu-daya canggih Partai Iblis ini.

 

Maka Partai Da’wah adalah partai yg terdiri dari manusia yg visi dan misinya adalah mengajak manusia untuk beriman kepada Allah swt, Al-Qur’an dan NabiNya, Muhammad saw. dan kafir serta menolak berkompromi dengan selain tiga hal di atas secara tegas, pasti, dan 100%. Penolong partai da’wah adalah Allah swt sendiri dan Dia pasti akan melindungi setiap kita yg memang mau minta tolong kepadaNya untuk terhindar dari tipu daya Partai Iblis, secanggih apapun.

 

Sesuai sunnatullah berupa fitrah manusia, perbaikan dan penyelamatan hati manusia dari ketertipuan oleh iblis hanya bisa dengan ajakan yg tulus dan menyentuh perasaan dan nuraninya. Tidak bisa dilakukan dengan penghakiman dan vonis serta balas dendam serta kemarahan/kebencian. Hati para koruptor yg sudah parah rusaknya akan semakin sombong bila diperlakukan seperti itu. Namun bila diingatkan bahwa kematian akan menghadapkan dirinya kepada pembalasan yg sangat dahsyat di neraka kecuali bertaubat sejak sekarang mumpung masih ada umur, insyaallah dengan izinNya akan timbul kesadaran dari dalam dirinya. Partai Da’wah selalu punya pedoman dalam kampanyenya yakni sirah Nabawiyah dalam Al-Qur’anulkarim.

 

Partai Da’wah dan pemilu 2024.

Apakah Partai Da’wah boleh ikut pemilu 2024? Jawabnya adalah wajib ikut. Namun perilakunya tentu berbeda dengan parpol umumnya. Partai Da’wah mengajak rakyat untuk bertaubat dan membersihkan diri dari dosa-dosa serta bagaimana menjadi muslim yg semuslim-muslimnya sesuai model standar yakni Nabi Muhammad saw. dan dalam kampanye mengajak kepada iman dan islam ini Partai Da’wah tidak mungkin minta ganjaran manusia bahkan  berupa simpati dalam bentuk mencoblos lambang dan foto calegnya.  Dia juga tidak mungkin mengajak kepada ashobiyah sempit. Dia hanya mengajak kepada fanatik sebagai mu’min-muslim, bukan fanatik sebagai partai A, B, dst. Dia berjihad untuk meratakan da’wah ke seluruh manusia lewat wadah pemilu 2024, namun bukan demi perolehan suara dan simpati manusia demi  sekian kursi di legislatif. Masalah jumlah suara yg memilih partai da’wah dia pasrahkan kepada Allah swt. Karena ridho Allahlah yg menjadi motif mutlaknya. Bagi dia jika Allah swt ridho dengan amal da’wahnya, pastilah Dia akan setel sejumlah yg dikehendakiNya suara untuk Partai Da’wah ini, lalu kader-kader da’wah masuk ke  legislatif untuk berda’wah menggugah nurani utk bersama-sama sang da’i  membersihkan diri dari dosa dan selalu berusaha mengislamkan diri, keluarga, masyarakat dan bangsa serta ummat manusia sedunia.  Teori ini menyisipkan suatu keyakinan bahwa hanya Partai Da’wah seperti inilah yg akan bisa membawa Indonesia kepada kejayaan dunia-akhirat (bukan kejayaan dunia saja) dan selamat dari tipu daya Partai Iblis. TAPI DARI 19 PARPOL YG LOLOS DAN LULUS VERIFIKASI KPU UNTUK JADI PESERTA PEMILU 2024, PARTAI MANA YANG MAU DENGAN TULUS IKHLAS MENJADI PARTAI DA’WAH? APAKAH ITU ADALAH PARTAI UMMAT?  Wallahu a’lam bishowab.      

redaksi