ARAHBANUA.COM
Oleh: Ferdi Setiawan, M.IKom
Wakil Pemimpin Redaksi Sinpo TV & Sinpo.id
- Momen paling berkesan sejak tiba di sini apa?
Saat pertama kali tiba di bandara King Abdul Aziz Jeddah Madinah, mengingatkan saya kepada perjalanan spiritual ibadah Umrah yang pada waktu itu saya Jalani Bersama anak sulung saya. Rasanya seperti tidak percaya dan luar biasa takjub, karena doal yang saya panjatkan pada saat umrah di akhir tahun 2024 agar bisa Kembali ke tanah suci bisa terwujud atas Ridho dan Kuasa Allah SWT. Tidak hanya itu, saya juga langsung teringat sahabat saya yang juga Jurnalis Aiman Witjaksono (kini Pemred Inews TV) yang juga sempat mendoakan saya di Multazam, agar saya bisa segera Berhaji ke Tanah Suci, rupanya doa sahabat saya Aiman Witjaksono tersebut dikabulkan oleh Allah SWT, hingga membuat saya bisa berada di tanah suci untuk menjalankan ibadah suci Haji 2026. Saya sangat bersyukur dan dalam hati kecil selalu berucap Alhamdulillahirobbil alamin. Rasanya sulit lagi dijelaskan dengan kata-kata.
- Tadi pertama kali lihat Ka’bah, apa yang langsung dirasakan?
Rasa haru dan mata tak kuasa meneteskan air mata, bukan karena sedih, tapi karena merasa Allah benar-benar mengundang saya ke rumah-Nya. Saya merasa sangat kecil, tetapi sekaligus sangat dekat dengan-Nya. Dalam hati saya sembari mendoakan keluarga, kedua orang tua, istri, anak dan sanak saudara. Namun, dalam sekejab saya berdoa di hadapan Kabah, doa untuk Orang tua saya khususnya Ibu saya, karena pada saat saya pamit berangkat bertugas haji, Ibu saya sedang sakit dan membutuhkan perawatan intensif, sementara saya tidak bisa menjaga langsung Ibu. Namun saya tak boleh berlarut dan percaya sama Allah, sudah mengatur perjalanan suci ini, saya juga merasakan nikmat yang luar biasa karena dimudahkan menuju Ka’abah. Dan pada saat umrah wajib tersebut, saya meminta kepada Allah agar dimudahkan dan diberi kelancaran dalam menjalankan aktivitas di tanah suci sebagai petugas haji dan bisa sekaligus menjalan ibadah haji tahun ini.
- Ada momen di sini yang bikin Bapak/Ibu berhenti sejenak?
Banyak moment yang membuat saya dalam kondisi tersebut.
Yang pertama saat wukuf di Arafah, saya terdiam cukup lama. Saya membayangkan perjalanan hidup saya dari kecil sampai hari ini. Rasanya seperti melihat kembali seluruh kehidupan dalam satu waktu. Banyak dosa, maksiat, mudharat dan kekhilafan yang pernah saya alami atau Jalani, Saya rasakan sangat berat mengungkapkannya ke Allah. Seraya memohon ampun dengan bersungguh sungguh, saya juga meminta agar diberi kesempatan untuk bisa menjadi orang beriman, bertaqwa dan jauh dari perbuatan hina hingga menjadi orang yang lebih baik secara iman dan islam.
Yang kedua, pada saat Wukuf saya mendapat video call dari istri yang mengabarkan bahwa Ibu saya sedang kritis di Rumah Sakit. Pada saat itu keluarga di kampung sudah berkumpul dan bahkan meminta saya untuk mengikhlaskan Ibu. Saya langsung termangu dan shock yang luar biasa. Sosok Ibu yang luar biasa bagi saya, sakit tak berdaya tapi saya tidak mendampingi dan membantu atau sekedar memegang tangan Ibu, saya hanya bisa menangis dan berdoa dengan selalu mengucap Tahlil, istigfar hingga terus menangis melihat raut wajah ibu saya yang sudah tidak bisa merespon sapaan saya dari ujung video call. Pada saat itu, saya seperti “NGEFREZZE”, hanya terus menatap wajah ibu saya melalui HP. Disaat itulah, saya berdoa kepada Allah di siang hari Wukuf, meminta keajaiban agar ibu saya disembuhkan dipulihkan agar saya masih bisa bertemu Ibu pada saat selesai tugas sebagai petugas haji. Moment yang tak bisa terlupakan pada saat saya LIVE REPORT Wukuf di SINPO TV, saya tak kuasa menahan tangis, karena mengingat Ibu saya yang masih belum ada kabar dari keluarga di Indonesia. (Note) Ibu saya wafat pada tanggal 20 Juni 2026, saat saya masih bertugas melayani jemaah haji di tanah suci. Saya tidak bisa mengiringi pemakaman almarhumah ibu, karena harus melayani tamu Allah. Semua sudah kehendakNya, dan saya meyakini Allah akan siapkan surga untuk Ibu saya.
- Sebelum berangkat haji, keseharian Bapak/Ibu seperti apa?
Tidak ada yang special dari saya, Saya hanya menjalani kehidupan sederhana. Setiap pagi mengantar dua anak gadis ke sekolah (anak kedua dan ketiga), karena 1 anak pertema cowok di pesantren di Banten. Setelah mengantar anak, langsung bekerja setiap hari sebagai Wakil Pemimpin Redaksi di Sinpo TV dan Sinpo.id, memimpin organisasi redaksi hingga mengajar mahasiswa komunikasi sebagai dosen di Universitas Dian Nusantara Jakarta serta berkecimpung dalam beberapa organisasi profesi yang saya ikuti. Setelah itu mengurus keluarga, dan berusaha menjalankan kewajiban sebaik mungkin. Berkegiatan juga di Perumahan bertemu dan silaturahmi bersama kerabat, kolega dan tetangga di kompleks perumahan.
- Perjalanan hidup apa yang paling berpengaruh sampai akhirnya bisa di sini?
– Selalu berprangka baik dan menjalin silturahmi dengan banyak orang, tak melulu dengan orang orang penting berpangkat, namun bersilaturahmi dengan siapapun dari latar belakang apapun, status ekonomo dan sosial apapun menurut saya Adalah penting. Karena saya menyakini dengan bersilaturahmi itu akan memperpanjang umur dan menambah rejeki buat kita.
– Dan satu hal yang penting yaitu jangan pernah meremehkan orang lain, siapa pun orangnya yang kita kenal harus kita hargai dan hormati, karena itu juga bagian dari kita jika kita ingin dihormati dan dihargai.
– Dan berbuat baik kepada orang lain, itu juga menjadi perjalanan hidup atau prinsip hidup saya. Dengan demikian pintu rejeki dan berkah akan selalu terbuka dan keberuntungan Insya Allah akan selalu kita dapatkan.
Tiga prinsip yang selalu saya terapkan dalam bergaul, berteman, berorganisasi dan bekerja. Dan alhamdulilah saya bisa berhaji melalui jalur pengabdian sebagai petugas haji, Adalah ekses positif atau manfaat dari 3 prinsip yang mengiringi perjalanan hidup saya.
- Kalau boleh jujur, hidup Bapak/Ibu dulu termasuk mudah atau penuh perjuangan?
Lebih banyak perjuangannya. Ada masa-masa ketika harus memilih antara kebutuhan keluarga dan keinginan pribadi. Karena itu, bisa sampai di sini adalah nikmat yang luar biasa. Doa orang tua yang utama, sehingga semua hal dimudahkan. Doa dan dukungan dari istri dan doa sederhana dari 3 anak saya, membuat saya selalu semangat dalam merarih cita cita dan harapan, tentu dengan selalu bermumajat dan mengharapkan petunjuk serta ridho dari ALLAH SWT.
- Pernah merasa tidak kuat menjalani ibadah?
Pernah. Saat cuaca sangat panas dan tubuh mulai lelah. Tapi setiap melihat jemaah lain yang lebih tua masih semangat beribadah, saya kembali kuat. Dan satu yang masih sering lalai, jika masih dalam kondisi sibuk dan sedang beraktivitas, ibadah selalu terlambat (sholat 5 waktu) tidak pernah tepat waktu. Insya Allah sepulang dari tanah suci, semua harus diRESTART, sehingga menjadi setelan dan motivasi spiritual yang baru dengan selalu tepat sholat 5 waktu, dan Insya Allah akan menjadi pribadi yang lebih baik secara islam dan iman.
- Ada keputusan besar yang harus diambil sebelum berangkat haji?
Ada. Saya harus meninggalkan pekerjaan dan keluarga untuk sementara. Tapi saya percaya, jika Allah yang memanggil, Allah juga yang menjaga semuanya. Tiga hal yang sempat memberatkan saya sebelum berangkat yaitu:
– Kondisi kedua orang tua saya yang sakit, Bapak sakit sudah demensia dan gangguan kencing, alias sudah tidak bisa menahan kencing sehingga sering ngompol serta sudah susah diberi tahu, karena usianya yang sudah lanjut. Saat saya pamit mau berangkat haji, saya sungkem ke Bapak karena harus berangkat bertugas haji. Dalam perjalanan saya berdoa agar Bapak bisa lebih segera pulih dan bisa menemani ibu saya yang juga sedang sakit saat itu.
– Kondisi Ibu saya yang sakit parah dan sudah tidak berdaya di tempat tidur karena komplikasi penyakit. Saat pamit ke Ibu, sedih dan berat banget saya rasakan. Saya pamit dan berharap masih bisa merawat dan menemani ibu di masa tuanya. Sebelum pergi saya titipkan ibu ke kakak saya yang merawat dan selalu berkomunikasi dengan saya di Tanah Suci. Hingga pada suatu saat, pada tangga 20 Juni lalu, Ibu saya wafat (berpulang) saya sangat sedih dan shock. Apa yang saya takutkan saat saya sebelum berangkat benar benar terjadi. Allah telah memanggil ibu saya, disaat saya tidak bisa pulang ke Indonesia karena masih bertugas sebagai pelayan Tamu Allah.Luar biasa kesedihan dan saya sangat terpukul…Semua saya pasrahkan dan saya munajatkan ke Allah, sambil menangis saya meminta Allah untuk kebaikan almarhuman ibu saya agar husnul khotimah dan disiapkan tempat terbaik di SisiNya. Saya hanya bisa berdoa sepenuh hati di tempat tempat Istimewa di tanah suci untuk almarhumah ibu saya.
– Istri dan Anak anak saya. Sebagai keluarga kecil, perjalanan saya terasa timpang karena harus meninggalkan istri dan anak untuk berpisah sangat lama sebagai petugas haji. Kebiasaan dan tanggung jawab yang saya lakukan sehari hari, harus digantikan sementara oleh istri saya. Saya merasa sangat kasihan kepada istri, karena harus urus 3 anak sendirian. Tapi saya titipkan semuanya ke Allah, sehingga pasti akan diberikan jalan dan kemudahan. Seraya dengan hal tersebut, selalu terselipkan doa untuk istri dan anakku saat saya di tanah suci.
- Apa yang Bapak/Ibu korbankan untuk bisa sampai di sini?
Waktu, tenaga, dan banyak keinginan khususnya menemani dan merawat ibu yang harus saya tanggalkan, karena saya harus menjadi petugas haji.Tapi semua sudah niat dan tawakal, jadi Langkah ini sudah ditakdirkan oleh Allah SWT. Allah pasti punya rencana besar dan baik dibalik perjalanan suci saya ke Arab Saudi untuk menjalankan tugas negara dan beribadah haji.
- Sebelum berangkat, bayangan tentang haji seperti apa?
Saya membayangkan haji itu berat secara fisik, panas dan capek. Dan juga jujur saya secara keilmuan agama, saya masih sangat kurang. Itu yang saya takutkan, apakah bisa menjalankan rangkaian ibadah haji. Tapi alhamdulillah karena sudah diniatkan dan ikhtiar, alhamdulillah semua berjalan dengan lancar. Banyak kisah yang terduga yang terjadi dibalik perjalanan spiritual haji ini, ini Adalah bukti Kebesaran dan Keadilan Allah SWT.
- Setelah di sini, ternyata berbeda di bagian mana?
Ternyata yang paling berat bukan fisiknya, tetapi menjaga hati agar tetap ikhlas dan sabar. Tapi karena semua yakin dan sudah diniatkan dari awal jadi semua yang tadinya masih dalam bayangan atau angan angan, akhirnya bisa dilampaui dan dijalani dengan baik. Semua tahapan dan rangkaian ibadah haji berjalan dengan baik, dan mudah mudahan Ibadah haji saya diterima Allah SWT dan bisa menjadi haji yang mabrur.Aamiin.
- Apa arti haji bagi Bapak/Ibu secara pribadi?
Ini perjalanan untuk pulang kepada Allah dengan hati yang lebih bersih. Haji Adalah panggilan kepada semua umat Islam, termasuk saya. Saya terasa masih tak percaya sudah menyandang predikat Haji,sebuah sebutan yang sangat berat dalam menjalaninya kedepan pasca haji. Segala perilaku dan tingkah laku kita sebagai orang yang sudah menunaikan rukun islam kelima, harus benar benar mencerminkan sebagai seorang haji. Haji Adalah sebuah perjalanan spiritual bagi saya yang sangat luar biasa. Banyak hal tak terduga yang terjadi, bahkan tak mungkin terjadi bagi saya, namun atas restu dan ridho Allah, semua bisa terjadi (Kun Fayakun). Dan pada akhirnya saya hanya bisa mengucapkan alhamdulillah dan sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang membuat hingga saya bisa beribadah haji di Tanah Suci.
- Kenapa perjalanan ini penting sekali?
Karena saya tidak tahu apakah masih diberi kesempatan hidup panjang. Saya ingin menghadap Allah dengan membawa ikhtiar terbaik. Banyak ikhtiar yang sudah saya lakukan untuk bisa beribadah haji. Sejujurnya saya dan istri sudah mendaftarkan haji sejak tahun 2018, dan dijadwalkan berangkat tahun 2034. Saat saya masih bekerja sebagai eksekutif Produser di Metro TV, sejak tahun 2018 saya mencoba untuk mendaftar sebagai petugas haji sebagai perwakilan dari Metro TV, namun kesempatan tersebut belum terealisiasi karena sistem antrean yang sangat Panjang untuk karyawan Metro TV yang masa kerjanya sudah lama diutamakan, Tahun Tahun berikutnya juga berniat mendaftarkan, namun urung dilakukan lagi. Dan pada saat saya Umrah tahun 2024 akhir, saya memanjatkan doa agar bisa dipanggil Allah untuk ibadah haji, dan baru dikabulkan pada tahun 2026 ini, melalui jalan lain yakni sekarang saya sebagai Jurnalis mewakili Sinpo TV, ini sebuah anugerah yang luar biasa dari Allah SWT bagi saya.
- Kalau disederhanakan, sebenarnya ingin apa?
Saya hanya ingin mendapatkan ampunan Allah atau semua dosa, maksiat, kekhilafan dan kedholiman yang pernah saya lakukan selama ini. Saya sadar semua hal buruk yang pernah saya alami,Adalah imbas dari hal buruk yang saya lakukan juga. Olehkarenanya perjalanan ibadah haji ini menjadi momentum spiritual yang sangat penting bagi saya agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik, lebih beriman, lebih bertaqwa dan lebih bermanfaat bagi agama, keluarga, orang lain, bangsa, negara dan Masyarakat luas.
- Pernah nangis di sini? Kapan?
Sering. Terutama saat berdoa untuk orang tua. Saya teringat semua pengorbanan mereka yang tidak akan pernah bisa saya balas. Saya sangat terharu dan tak bisa menahan air mata, mulai dari memasuki tanah suci (saat mendarat di Bandara), masuk masjidil haram, mencium Ka’bah, Menyentuh Multazam, di Arafah dan di Raudah Nabawi. Saat mendoakan untuk orang tua, istri dan anak anak saya, saya juga menangis karena saya merasa masih sangat kurang sempurna buat mereka. Seraya hal tersebut, saya berdoa akan kedepan saya bisa menjadi orang lebih beriman dan bertagwa, jadi Orang Kaya Harta dan kaya Hati, jadi orang Bermanfaat dan Baik dan bisa menjadi orang berdampak bagi Masyarakat luas, sehingga apa yang selalu saya kerjakan atau perbuat selalu menjadi bagian dari rencana Allah yang tentunya sudah diridoi dan direstui oleh Allah.
- Apa yang paling bikin hati tersentuh?
Melihat jutaan manusia dari berbagai negara beribadah bersama. Di sini tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semua sama di hadapan Allah. Saya merasa sangat rendah diantara pada orang orang tersebut, saya merasa apa yang saya lakukan baik dalam hal aktivitas maupun pekerjaan, hanya mementingkan duniawi. Pada saat itulah saya merasa saya masih belum memiliki bekal apapun untuk Akhirat. Ya Allah, ini benar benar cambukan dan membuat saya sangat sedih dan tersentuh. Saya bukan siapa dan hanya makhluk kecil yang tak berdaya, Allah bisa kapanpun ambil kenikmatan yang selama ini saya rasakan. Dengan demikian saya berikhtiar akan menjalankan seluruh perintahNya dan menjauhi LaranganNya, dan selalu memohon ampunan kepada Allah. Dan yang pasti bermunajat di hadapan Allah, kedepan semua bisa lebih baik dari kemarin kemarin.
- Ada doa yang baru di sini diucapkan?
Ada, selalu dan selalu doa untuk kedua orang tua saya, agar selalu diberi Ampunan, disayangi dan dicintai Allah SWT. Saya juga meminta agar Allah menjaga anak-anak dan keturunan saya agar tetap berada di jalan yang baik setelah saya tiada. Tak lupa saya juga berdoa untuk perbaikan kualitas dan kuantitas hidup saya baik secara mental, spiritual,Kesehatan dan keberkahan. Saya ingin sepulang dari tanah suci, bisa selalu diberikan Kesehatan sampai akhir hayat, harta yang melimpah jadi kaya raya, sehingga bisa membahagian dan memberikan masa depan yang lebih baik untuk istri dan anak dan orang orang sekeliling saya. Dan juga tentu menjadi pribadi yang berguna dan bermanfaat bagi banyak orang.
- Selama di sini ada kebiasaan khusus?
Setiap selesai salat, saya selalu menyempatkan mendoakan orang tua, keluarga, dan orang-orang yang pernah membantu saya dalam hidup. Saya juga selalu memohon ampunan kepada Allah, karena saya sadar banyak dosa dan khilaf selama ini, doa mohon ampunan dan mohon Kesehatan, keberkahan, rejeki, dan keberuntungan selalu saya munajatkan karena hanya Allah SWT tempat kita meminta dan berharap berkahNya. Di moment selama di tanah suci, kita semua jadi sadar karena jika Allah memanggil kapanpun kita sebagai makhluknya harus siap, jadi harus banyak berdoa dan tingkatkan ibadah baik selama di tanah suci, maupun nanti sepulangnya dari tanah suci ke tanah air.
- Hal kecil apa yang paling berkesan?
Senyuman orang-orang yang tidak saya kenal. Di sini saya belajar bahwa kebaikan bisa hadir dari siapa saja dalam bentuk apa aja. Tidak harus dengan materi, atau kedudukan seseorang, tapi kita bisa dikenal dan mengenal orang dalam kondisi sama yakni petugas haji Indonesia. Semua satu dan kompak sebagai sebuah keluarga Kementerian haji dan umrah RI. Satu hal lagi yakni pelayanan terhadap para tamu Allah, memberika Kesan yang luar biasa bagi saya. Sesuatu yang saya lihat seperti mustahil, namun di tanah suci semua jadi tidak mustahil, semua dimudahkan oleh Allah. Banyak jemaah lansia, jemaah kondisi fisik tidak prima, Jemaah disabilitas dan bahkan jemaah dari latar belakan ekonomi yang tidak pernah diperhitungkan (miskin), semua bisa memiliki kesempatan yang sama untuk beribadah haji di tempat suci ini. Itulah yang menyadarkan saya dan berkesan, selama menjadi petugas haji di tanah suci. Saya bahkan menemukan sosok lansia yang mirip dengan almarhumah ibu saya, saat bertemu saya doakan beliau dari saat datang hingga pulang, dalam kondisi sehat dan lancar ibadahnya, padahal usia sudah lanjut dan memakai kursi roda. Dan saat bertemu beliau pada saat melayani kepulanganya ke tanah air, saya langsung ingat almarhumah ibu saya.
- Apa yang paling sulit di sini yang orang lain mungkin tidak tahu?
Menahan diri dari mengeluh. Saat lelah dan panas, kita diuji untuk tetap bersabar. Melayani ribuan jemaah haji dengan sabar dan Ikhlas, dengan beragam suku, profesi dan status sosial ekonomi, kita tetap melayani mereka dengan perlakukan dan pelayanan yang sama, yakni sesama hamba Allah, tamu Allah yang datang ditempat yang sama sebagai makluk Allah SWT. Alhamdulillah, kebiasaan dan pengalaman kita selama ini baik dalam pekerjaan dan organisasi kemasyarakatan, itu sedikit menjadi bekal dalam pelayanan di Tanah Suci, dan pula adanya pelatihan petugas haji selama 20 hari di asrama haji Pondok Gede juga memberikan manfaat luar biasa.
- Ada hal yang berubah dalam cara pandang hidup?
Saya jadi sadar bahwa banyak hal yang dulu saya kejar ternyata tidak terlalu penting dibandingkan ketenangan hati. Semua kegiatan, semua tingkah laku, semua perbuatkan harus diniatkan karena ibadah karena Allah SWT. Semua orang akan sama pada waktunya, yakni Kembali ke Allah dalam keadaan diri sendiri hanya ditemani oleh amal dan bekal ibadah selama hidupnya, itulah yang juga saya dengar dan bahkan saya rasakan selama berhaji dan menjadi petugas haji di tanah suci. Apa yang kita perbuat, kita niatkan akan disadarkan saat semua bersimpuh di hadapan Allah di semua tempat mustajab di tanah suci seperti di Arafah, Jamarat, Mina, Ka’bah dan Raudah.
- Apa yang paling disadari setelah menjalani haji?
Bahwa hidup ini sangat singkat. Yang akan dibawa pulang bukan harta atau jabatan, tetapi amal dan kebaikan. Berbuat baik bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, tanpa harus menunggu diapresiasi ataupun mendapat reward. Semua diniatkan karena Allah, Lillahi ta’ala.
- Kalau nanti pulang, apa yang ingin dibawa?
Hati yang lebih lembut, lebih sabar, dan lebih bersyukur. Dalam keluarga menjadi kepala keluarga yang bertanggungjawab, membimbing istri dan anak ke jalan Allah SWT dan memberikan kebahagian lahir, batin kepada istri dan anak anak. Dalam pekerjaan, menjadi pemimpin yang bijaksana, baik, adil dan mengayomi semua karyawan, rekan kerja, dan tim kerja yang selama ini bekerja sama. Dan memberikan contoh yang baik kepada karyawan, dari hal sederhana termasuk dalam hal ibadah, bertatakrama dan bekerja sama, semua harus dikembalikan semua dasarnya niatkan beribadah ke Allah SWT. Dalam organisasi, Insya Allah akan menjadi pribadi yang berdampak positif dan menginspirasi bagi semua organisasi, pengurus, anggota dan mitra organisasi agar semua yang direncanakan dan dikerjakan dalam bermanfaat bagi khalayak publik dan berdampak positif.
- Kalau diringkas dalam satu kalimat, Bapak/Ibu datang ke sini sebenarnya untuk apa?
Saya datang ke Tanah Suci bukan untuk menjadi orang yang lebih hebat, tetapi untuk pulang sebagai hamba yang lebih baik.
Saya penuhi panggilan Allah yang luar biasa ini sebagai peringatan sekaligus motivasi spiritual bagi saya untuk bisa kembali menata dan menapaki kehidupan kedepan yang lebih baik, lebih sukses, lebih semangat, lebih beruntung, lebih sehat dan lebih berdampak bagi agama, keluarga, Masyarakat, bangsa dan negara. Tentu bukan hal yang mudah bisa meraih kesempatan untuk berhaji melalu jalur petugas haji Indonesia, ini sangat saya syukuri dan saya harus menjadikan peristiwa ini sebagai moment perubahan terhadap diri saya, baik sebagai pribadi, kepala keluarga, pemimpin redaksi, fungsionaris organisasi maupun kehidupan bermasyarakat ( bertetangga ) agar segala keputusan, aktivitas, kebijakan yang saya lakukan hanya semata mata atas ridho dan restu Allah SWT. Selalu dan selalu harus diniatkan karena Allah SWT, karena hanya Allah yang bisa menghendaki atau merealisasikan semua rencana manusia. Bismillahirahmanirahhim, Nawaitu, setelah berhaji semakin meningkatkan Iman dan Takwa.Aamiin.
Runtutan Quote saya: (Jika mau dipakai dalam rangkaian jawaban diatas, sudah per point)
“Niatkan semua aktivitas kita sebagai ibadah, Insya Allah akan diridoi, direstui dan dimudahkan oleh Allah SWT. Namun jika gagal atau tidak sesuai rencana, itu semua sudah ketetapan Allah, berarti belum mendapat ridho dan restu dari Allah”.
“Sebagai Makhluk sosial, Kita harus Rajin dan Senang Bersilaturahmi dengan Semua Orang, tanpa melihat status ekonomi, sosial dan profesi. Saya percaya silaturahmi akan menambah berkah dan rejeki, dan Insya Allah akan memperpanjang usia kita”.
“Jangan pernah meremehkan orang lain, karena dihadapan Allah SWT semua sama. Bukan tidak mungkin orang yang diremehkan justru lebih Hebat dari orang yang meremehkan”.
“Berdoa memohon ampunan untuk orang tuamu. Selalu ingat dan sayangi selalu kedua orang tuamu, meski tidak bisa membersamainya setiap hari, Doa bagi orang tua adalah hal wajib bagi anak. Doa juga agar Allah selalu menyayangi kedua orang tuamu. Ingat, kita juga akan menjadi Orang Tua yang nantinya juga Insya Allah akan selalu didoakan oleh anak cucu kita suatu saat nanti.Aamiin”.
“Bersyukur dan Belajar, menjadi tamu Allah di tanah suci. Panggilan ini, tentu menjadi peringatan sekaligus motivasi bagi kita (manusia) agar menata kembali kehidupan spiritual kedepan menjadi pribadi yang lebih beriman dan bertakwa, serta bermanfaat bagi agama, keluarga, Masyarakat, bangsa dan negara”. Aamiin.
*a 6901/ pjmi/ ab/ nf/ 270626
![]()


KOMENTAR TERBARU