18 Juni 2025
Gambar WhatsApp 2025-05-02 pukul 07.37.28_e5626e7b (2)

ARAHBANUA.COM

 

 

JAKARTA – Dalam rangka menghadapi dinamika global dan spiritual yang semakin kompleks, Majelis Gerakan Akhir Zaman (GAZA) menggelar Dialog Internasional bertajuk “Bedah Mimpi (Mubasyirat) Umat di Akhir Zaman, Sebagai Petunjuk Menghadapi Krisis Masa Depan Bangsa dan Dunia.”

Acara digelar di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada, Kamis 01 Mei 2025, dihadiri oleh sejumlah kalangan dan tokoh dari perwakilan kementrian/non kementrian, instansi pemerintah, tokoh agama, akademisi, organisasi kemasyarakatan sipil, dan perwakilan dari lembaga internasional dan utusan duta besar negara-negara Islam, serta para tamu undangan lainnya.

Adapun narasumber dalam Acara dialog Internasional tersebut, Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, MA (Ketum PBNU 2010 – 2021, dan pakar Sejarah Islam), Prof. Dr. K.H. Abdul Wahid Maktub (Gus Wahid) (Presiden University Lecture, Duta Besar RI untuk Qatar 2003 – 2007), K.H. Wahfiudin Sakam, S.E, M.BA (Ekonom, Cendekiawan Muslim, Master Trainer), Drs. Raden Diki Candra Purnama, M.M (Majelis GAZA) dan Ustadz Dede Hikayat (Majelis GAZA). Dengan moderator, Dr. K.H. Imam Addaruqutni, M.A (Wakil Ketum Dewan Masjid Indonesia/DMI), Wakil Rektor Univ.Perguruan Tinggi Ilmu Qur’an (PTIQ).

Menurut Ketua Majelis GAZA, Diki Chandra, bahwa forum ini dirancang sebagai ruang pertemuan antara tokoh-tokoh kunci bangsa, yang terdiri dari unsur pemerintah, TNI, kalangan diplomatic, akademisi, mahasiswa, tokoh agama, pengusaha dan masyarakat sipil, serta menghadirkan peserta dari dalam dan luar negeri secara live (zoom).

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Kang Diki juga menyampaikan, foakus utama dari forum ini untuk menggali secara mendalam fenomena mubasyirat, yakni mimpi-mimpi Illahiah yang tersebar luas di tengah-tengah umat, serta mengaitkannya dengan dinamika akhir zaman dan potensi terjadinya bencana alam besar yang kini kian diyakini oleh banyak kalangan.

Kang Diki juga menyampaikan bahwa rangkaian mimpi umat yang telah dikumpulkan, ditafsirkan, dan dikaji secara cermat mengungkap adanya pesan-pesan illahiah yang tidak boleh diabaikan karena di sanalah terkandung arah petunjuk, peringatan, bahkan strategi ketuhanan bagi umat manusia agar mampu bertahan, bersiap, dan bangkit di tengah arus perubahan zaman.

“Untuk itu, dialog ini merupakan panggilan nurani yang mengajak kita untuk menyatukan langkah, menyelaraskan hikmah dan kebijakan, dalam menghadapi realitas spiritual dan geostrategi global yang semakin kompleks dan tak terduga, ”jelas Diki Candra.

Sementara itu, K.H. Wahfiudin Sakam dalam kesempatan tersebut memaparkan secara gamblang yang juga disertai dengan data-data terkait kondisi realitas yang ada di dunia dan juga di negeri kita saat ini. Beliau juga menceritakan tentang kisah Nabi Yusuf, yang bermula dari mimpinya saat Nabi Yusuf masih kecil.

Disisi lain KH Wahfiudin juga menekankan pentingnya Umat Islam untuk menghidupkan kembali tarekat, tasawuf. Dunia tarekat di kalangan Nahdliyin menjadi sangat menarik dan perlu mendapat bimbingan.

Terakait dengan apa yang dilakukan Majelis GZA ini, menurut mantan Ketua JATMAN (Jam’iyyah Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah) sangat menarik, karena ini dikaitkan dengan geopolitik.

“Islam dan geopolitik tidak bisa dipisahkan, secara pelan atau lambat Umat Islam akan mendatangi geopolitik atau geopolitik itu sendiri yang akan mendatanginya,”jelas KH Wahfiudin Sakam.

Mantan Ketua Umum PBNU, K.H. Aqil Siroj mengapresiasi kegiatan ini, dan beliau menguraikan dari sisi keagamaanya (Islam), baik terkait dengan apa yang dimiliki oleh setiap Insan dan juga tentang tiga jenis mimpi.

Pertama, mimpi yang baik, merupakan kabar gembira dari Alloh SWT dan dapat ditafsirkan. Kedua, mimpi yang disebabkan oleh bawaan pikiran, mimpi ini muncul karena aktivitas atau pikiran seseorang ketika terjaga, dan Ketiga, mimpi yang menyedihkan, mimpi ini berasal dari setan dan sebaiknya tidak diceritakan kepada orang lain.

Terkait mimpi-mimpi Muhamad Qosim dari Pakistan yang dikumpulkan Majelis GAZA, KH Said berpandangan, mungkin juga bisa benar dan mungkin juga tidak.

“Apa yang dilakukan Diki Candra dengan Majelis Gaza, ini merupakan sebuah kreatifitas, dan mubasyirat ini perlu untuk terus dikaji dan dikembangkan,”jelas KH Said Aqil Siroj.

Disisi lain, K.H. Abdul Wahid Maktub lebih banyak menguraikan pengalamanya keliling ke berbagai negara, dan menurut beliau dibalik gemerlapnya dunia barat yang konon disebut sebagai dunia moderen, ada kehampaan spiritual dari manusia moderen tersebut. Sehingga banyak diantara mereka rindu akan hadirnya nilai-nilai spiritual dalam kehidupanya.

Mantan Dubes untuk Qatar juga menyampaikan bahwa dirinya terus mengikuti sebuah kajian tentang teknologi dari Jepang yang fokus pada teknologi, namun diakuinya bahwa konsep ini juga mengakui pentingnya nilai-nilai spriritualitas, seperti keharmonisan, kebaikan dan tanggung jawab social dalam kehidupan masyarakat.

Hal ini menunjukan bahwa kajian teknologi tersebut dapat membawah perubahan dalam kehidupan beragama, dan perlu dipertimbangkan oleh pemikir dan pemimpin agama untuk mengatasi tantangan keagamaan di era digital.

Dalam kesempatan tersebut Rektor President University juga snagat mengapresiasi adanya kajian mubasyirat yang dilakukan Majelis GAZA ini. Kedepan perlu adanya langkah-langkah yang harus terus dilakukan, untuk menghidupkan kebali Al Mubasyirat ini dengan prespektif ilmiah, tentunya. (*)

 

 

 

*irsh-wsu/ pjmi/ ab/ nf/ 020525

Loading

redaksi