25 Juli 2024

ARAHBANUA.COM

Oleh: Noorhalis Majid

Ambin Demokrasi  |

Seorang caleg bercerita, di gang tempat dia tinggal, ramai orang membagikan amplop money politik. Bergandengan bahu membahu satu paket berdasarkan tingkatan daerah pemilihannya. Mulai caleg kota, provinsi hingga pusat. Bahkan ada yang satu paket dengan Capres.

Siapa saja yang melakukan tersebut? Disebutlah sederet nama caleg populer. Termasuk caleg yang kesehariannya mengaku kritis, idealis. Nyatanya takut juga tidak terpilih dan melakukan money politik.

Caleg tersebut sambil bercerita hanya bisa termenung, karena money politik terjadi sampai ke teras rumahnya. Merebut suara warganya, tetangganya dan handai tolan yang mengenal keseharian dirinya.

Apakah warganya pasti memilih yang memberi uang? Belum tentu, sahutnya pelan. Tapi pertanyaan warga terdengar menyakitkan. “Situ kadada amplopnya kah?”.

Sebaliknya, ada juga caleg bercerita pengalaman mengharukan. Ada warga yang tahu dia seorang yang baik dan layak terpilih, lalu warga tersebut yang sebelumnya seorang pedagang pakaian, membongkar lemari pakaiannya yang tidak terjual. Di lemari tersimpan kerudung ratusan lembar. Bermodal satu bok kartu nama caleg, ia berkeliling membagikan ke rumah-rumah warga disertai kerudung miliknya, minta warga secara suka rela memilih caleg baik tersebut.

Cerita tersebut sangat mengharukan, di tengah warga “abut dan kipuh” mengejar amplop, ternyata masih ada yang sadar dan turut memberikan dukungan pada caleg yang dinilainya baik.

Sayangnya cerita-cerita heroik dan menginspirasi seperti itu, tidak banyak terdengar. Sehingga tidak mampu membangun atmosfir kesadaran bahwa ada banyak warga yang cerdas, sadar dan peduli terhadap orang-orang baik dan turut memperjuangkannya.

Cerita yang banyak tersebar justru soal kebodohan dan pembodohan, yang menyuburkan money politik tanpa malu dan tanpa takut. Hingga warga kipuh dan abut mahagai amplop, hingga di masa tenang jelang menit akhir hari pencoblosan. (nm)

 

 

 

 

redaksi