21 Juli 2024

Ilustrasi Distopia ( foto ist )

Tulisan bersambung edisi 2 dari Penulis OVAMIR ANJUM
Editor: Reza Nasrullah
arahbanua.com, BANJARBARU-

Manusia adalah makhluk kenangan dan keinginan. Kehidupan tanpa harapan yang melampaui masa kini dan tanpa mimpi memperbaiki kondisi pribadi sekaligus menyelamatkan orang yang dicintai adalah kondisi yang mengerikan.
Kondisi distopia seperti ini sering melahirkan kejahatan besar. Bahkan, para imperialis pun mengakui perlunya mimpi; Churchill pernah berkata, jika seseorang bukan Marxis di usia dua puluh lima maka dia tidak punya hati, tetapi jika seseorang masih juga Marxis di usia tiga puluh lima maka dia tidak punya otak. Marxisme, lengkap dengan eskatologi dan kredonya, adalah agama sekuler tertinggi di zaman modern.
Bagi pemuda sekuler di belahan Dunia Utara, Marxisme atau bentuk visi progresif lain mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh eskatologi agama dan watak belas kasih penyelamat dunia yang tidak dimiliki kapitalisme. Sebagai komunitas global, umat Islam harus memiliki impian dan harapan bersama yang berfaedah. Kontrol Orwellian terhadap agama resmi dan pemberangusan setiap ekspresi visi alternatif Islam oleh penguasa zalim di Dunia Islam secara langsung bertanggung jawab atas tindakan apokaliptik dan nihilistik seperti yang dilakukan oleh NIIS. Para penguasa ini dibantu dan difasilitasi oleh negara-negara adidaya untuk ikut serta dalam Perang Global Melawan Teror dan mempersetankan segala hal, khususnya mengebiri Islam.
Keadaan ini telah menghancurkan jiwa generasi Muslim milenial dengan cara mempolarisasi mereka, sehingga di antara mereka ada yang merasa menyesal menjadi Muslim dan merasa marah karena alasan yang sama.
Jenis Islam yang berkelanjutan di masa depan harus menjadi Islam yang betah dengan dirinya sendiri sekaligus mampu menyelamatkan dunia bukan dari dirinya sendiri melainkan dengan menjadi dirinya sendiri.
Visi ini dengan kukuh disuarakan oleh Profesor Salman Sayyid dalam karyanya yang berani dan imajinatif
Recalling the Caliphate:
Mengingat khilafah berarti memahami tantangan yang dihadapi umat Islam secara kolektif bukanlah agama atau budaya melainkan politik dan resolusi mereka hanya dapat ditemukan dalam politik atas nama Islam. Politik ini tidak memiliki konten yang diperlukan selain yang diperjuangkan dalam urutan sejarah yang dimulai sejak kembalinya Nabi Muhammad (saw.) [dari mikrajnya ke surga]

Mengingat khilafah pada waktu itu adalah deklarasi dekolonial, ia adalah pengingat bahwa Islam adalah Islam (keselamatan), dan bagi umat Islam hanya itulah yang diperlukan.

16. Pengingatan ini sudah lama tertunda. Kini, sudah selama hampir satu abad Islam tidak diperbolehkan menjadi Islam.
Setelah Perang Dingin, tatanan Barat menang. Para nabinya Barat, mulai dari yang konservatif seperti Huntington (“Orang lain berbeda, kita harus melawan mereka”) hingga yang liberal seperti Fukuyama (“Kita berada di akhir sejarah, kita harus mengasimilasi semua”), mengakui perlunya perbatasan dan musuh baru.
Liberalisme (seperti kembaran ekonominya, kapitalisme) terus-menerus membutuhkan imperium dan penaklukan; kemenangannya hampir meratakan dunia, sehingga kaum liberal sendiri meragukan alternatifnya.

Antropolog Clifford Geertz berpikir keras tentang dilema ini: keyakinannya akan superioritas liberalisme justru melawan kesadarannya—sebagai seorang antropolog—tentang keragaman keyakinan dan budaya.

Berangkat dari dilema ini, koleganya yang bernama
Richard Shweder pun bertanya: mengingat perataan semua peradaban oleh kapitalisme liberal, apakah monokultur yang menyerupai Dunia Baru yang Berani (Brave-New-World) adalah satu-satunya masa depan manusia? Dia lalu berspekulasi tentang tiga kemungkinan masa depan, mengajak kita untuk menyadari:
Masih harus dilihat apakah sejarah akan berakhir dengan pengembangan peradaban universal (nubuat nomor 1)

Kemenangan universal etnonasionalisme dengan banyak negara[berbasis]-bangsa yang terpisah dan otonom (nubuat nomor 2)

Atau apakah manusia, yang telah berkali-kali hidup di imperium multinasional sebelum era modern, siap hidup seperti ini lagi, bahkan dengan ketentuan politik liberal (nubuat nomor 3)

17. Menurutnya, adalah kemungkinan ketiga yang memastikan kemakmuran dan kebebasan manusia yang nyata. Dan, menurut saya, ini adalah satu-satunya yang dapat diterima umat Islam secara wajar, yakni dunia dengan peradaban-peradaban yang sejatinya berbeda tetapi melihat kolaborasi dan koeksistensi, bukan konflik, sebagai tujuan abadi.
Universalisme palsu adalah kontradiksi dan kemunafikan terbesar terbesar liberalisme. Seperti dinyatakan Wael Hallaq dalam monografinya baru-baru ini
Restating Orientalism: A Critique of Modern Knowledge.

18. Orang-orang seperti Edward Said yang menentang diskursus “konflik” ini malah menghilangkan Islam sebagai realitas peradaban.
Pendekatan lebih baik adalah menerima Islam sebagai entitas peradaban dan mempertanyakan alih-alih melihatnya sebagai “konflik” yang seolah-olah tak terhindarkan.

Bersambung

redaksi